Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
sumber gambar: canva Brak! "Cukup!" Ibu tiba-tiba melempar biolaku hingga terbelah menjadi dua. Senarnya pun putus. Padahal, aku s...
Brak!
"Cukup!"
Ibu tiba-tiba melempar biolaku hingga terbelah menjadi dua. Senarnya pun putus. Padahal, aku sudah bersusah payah mencari tempat persembunyian agar tidak diketahui oleh keluargaku yang sangat benci dengan musik. Aku selalu menanamkan pikiran bahwa mereka menderita gangguan Musical Anhedonia. Ini sudah ketiga kalinya aku menabung untuk membeli alat instrumen gesek itu. Kini, biola ketigaku rusak lagi.
"Kamu inget sama aturan di rumah? Nggak ada musik! Kamu seharusnya paham! Peraturan ini Ibu terapkan dari kamu kecil!" teriak Ibu penuh emosi.
Aku ingin membantah. Namun, aku berusaha menenangkan diri. Wajah Dani muncul diam-diam di balik parkiran alun-alun.
"Peraturan berlaku buat di rumah, Bu. Bukan di alun-alun," ucapku masih berusaha tenang.
"Dimana pun tempatnya, selagi Ibu lihat, itu tetep salah! Ibu nggak peduli sama biolamu.
Sekali Ibu tahu kamu beli yang baru, Ibu bakal ngerusakin semuanya sampai kamu berhenti dan benci sama yang namanya musik!" tuturnya segera berpamitan denganku lalu meninggalkan alun-alun.
Jeda (suara langkah kaki mendekat)
"Mika! Kok bisa Ibumu tahu kamu di sini?" tanya Dani dengan polos.
"Tahu dari kamu, kan?" ucapku menyimpulkan kedatangan Dani yang tiba-tiba hari ini berhubungan dengan kedatangan Ibu.
"Ha? Mik, kamu kok ngomong gitu?" tanya Dani terkejut dengan wajah yang pucat.
"Selama ini, orang yang selalu dukung aku di bidang musik, ya kamu. Siapa lagi? Tapi, orang yang kelihatannya baik belum tentu baik selamanya, Dan. Aku tahu kok," ucapku masih meratapi biolaku yang sudah hancur.
"Jangan salah paham, Mik. Aku dateng karena aku dikabari temenku kalau kamu ikut tim musik buat drama musikal di fakultas Sastra minggu depan," jelasnya runtut tanpa ragu.
Aku tersenyum tipis.
"Terus, kok tahu kalau aku di sini? Selama ini, nggak ada orang yang tahu aku latihan di sini. Kamu jangan ngarang!" lanjutku mulai tersulut emosi.
"Mik. Sumpah! Aku nggak andil sama semua ini. Aku baru tahu kalau ada permasalahan serius yang kamu alami sama keluargamu soal musik," belanya dengan nada yang tegas.
Aku masih tidak bisa percaya. Meskipun ia mengelak, ia seakan-akan tahu benar kehidupanku. Padahal, aku tidak memiliki satu pun teman dekat di kampusku.
"Udah. Pergi aja. Aku nggak mau ketemu sama siapa-siapa. Bilang aja, aku keluar dari tim musik. Nggak usah nyariin aku!"
"Mik, masalah biola bisa kita obrolin lagi," ucap Dani yang menahanku pergi.
Aku melihat ke arah biolanya.
"Kamu mau nuker biolaku sama biolamu? Itu yang mau kamu obrolin?" ucapku sudah tidak bisa menahan emosi dan malas melihat wajah Dani.
"Entah kamu ngelihat aku kayak apa. Tapi, aku bener-bener nggak ngerencanakan apa-apa apalagi yang ada sangkut pautnya sama ibumu. Aku pengen kamu jadi musisi, Mik."
Dani menyodorkan biolanya padaku.
Aku tidak segera menerimanya dan tersenyum.
"Percuma. Biolamu besok udah hancur kayak mimpiku, kepercayaanku, dan semua hal di hidupku. Masih sok-sokan bilang mau mastiin semua bakal baik-baik aja? Memangnya kamu Tuhan yang bisa ngatur kehidupan manusia? Bahkan, kamu aja belum tentu bisa nerima kehidupanmu sekarang. Kenapa harus maksa orang buat nggak apa-apain hidupnya?" omelku berusaha tidak memberikannya celah untuk berbicara.
Dani tersenyum. Ia tidak tersulut emosi sedikitpun lalu mengalungkan tas biolanya di lengan kananku yang sedikit bungkuk.
"Karena hidupku sudah hancur, aku nggak mau hidupmu juga hancur, Mik. Aku pastiin setelah ini nggak akan ada yang ngehancurin musikmu lagi sekalipun orang tuamu sendiri."
Dani tersenyum dan mengajakku untuk naik motor bersamanya. Aku ragu. Namun, aku melakukannya.
"Mau kemana sih!" protesku karena tidak mengetahui arah jalan yang Dani pilih.
"Udah. Kamu nikmatin aja perjalanannya."
Beberapa menit kemudian setelah menempuh perjalanan panjang.
"Pantai Sowan?"
Aku terkejut melihat pemandangan di depanku.
"Aku sengaja pilih pantai ini karena nggak terlalu rame dan pemandangannya juga bagus. Kamu bisa main biola sepuasnya. Cuma bayar 10.000 aja kok. Nggak mahal kalau punya uang. Kali ini, aku bayarin. Besok-besok kamu bayar sendiri ya biar aku nggak nggangguin kamu latihan." Dani mengajakku masuk ke pantai tersebut.
"Kenapa aku nggak kepikiran buat latihan di pantai selama ini?" tanyaku sudah merasakan emosiku yang turun.
"Mainmu kurang jauh. Kamu kan anak rumahan yang cuma nyebrang beberapa meter dari rumah ke alun-alun. Gimana ibumu nggak tahu kamu di sana?" ucap Dani tertawa kecil.
Aku melihatnya sinis.
"Kamu ngintipin aku, Dan? Dari tadi, kamu selalu bilang hal-hal tentang aku yang nggak pernah aku ceritain ke orang lain. Kita jarang ngobrol lho, Dan. Selama ini, aku cuma ngelihat kamu dari jauh. Kita juga ngobrol cuma soal biola dan itupun kita lakuin di kampus. Di luar itu, nggak pernah ngobrol. Kamu mbuntutin aku ya!"
Aku sudah merasa was-was.
"Ha-ha. Apaan sih, Mika. Namanya juga fans. Wajar dong tahu semuanya?" ucap Dani meninggalkanku.
"Fans?"
Saat ingin menyusul Dani, aku mendengar notifikasi ponsel.
"Siapa yang kirim WhatsApp?"
Mika kita tunggu kamu latihan lagi di drama musikal kita ya. Kamu beruntung banget kenal sama Dani. Dani selama ini selalu bela-belain buat bantu kamu keluar dari masalahmu. Dia sampe niat banget tanya ke semua anak bahkan saudara sepupuku untuk bisa ngewujudin mimpimu. Nanti, waktu kita udah nampilin drama musikal, aku yakin orang tuamu pasti bangga.
Aku melihat Dani dengan tersenyum.
"Padahal, selama ini aku yang selalu ngejar-ngejar pengen lihat permainan biolamu dan selalu dateng buat lihat penampilanmu. Tapi, aku nggak nyangka ternyata kamu sebegitu pedulinya sama aku. Semoga biolamu ini aman di tanganku, Dan. Semoga juga aku bisa wujudin mimpimu."
Aku tersenyum sembari melihat lengan baju kanan Dani yang terkulai dengan begitu ringan terkena angin. Aku memijat lengan kananku.
"Aku lakuin buat kamu, Dan."
"Mika!"
***