Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
sumber gambar: canva "Widih! Tumben banget dateng? Biasanya selalu bilang nggak bisa." ...
"Widih! Tumben banget dateng? Biasanya selalu bilang nggak bisa."
Aku melirik ke arah Miki yang melihatku sambil cengengesan. Aku tidak menghiraukannya sambil melihat jam tanganku berulang-ulang. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku berharap acara ini sudah selesai sebelum jam sembilan malam nanti.
"Apaan sih, Mik! Harusnya seneng dong Lia akhirnya bisa gabung nongkrong sama kita," bela Siska lalu mengajakku duduk di sebelahnya.
Makanan pembuka datang. Aroma sup sehat menggelitik hidungku. Di tengah malam yang dingin karena baru saja hujan badai membuatku lahap menghabiskannya. Di tengah ketenangan ini, Miki lagi-lagi menyulut emosiku.
"Tumben ibumu ngijinin buat keluar? Kabur ya?" tanyanya yang sudah menghabiskan sup sehat sambil menyeruput kopi hitam di sisinya.
Aku menyipitkan mataku ke arahnya.
"Miki! Aku tadi yang ijin ke ibunya Lia. Udah deh! Nggak usah cari perkara! Makan terus diem!" omel Siska membekap mulut Miki lalu mendorongnya.
Miki tertawa.
"Emang ya. Cewek itu suka banget ikut campur. Orang yang aku tanya siapa yang jawab siapa. Aneh!" ucap Miki mengeluarkan batang rokoknya lalu menghela napasnya di depan wajahku.
Aku hampir saja emosi tetapi aku masih menahan diri. Aku memeriksa jam tanganku. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Tidak ada tanda-tanda Siska ataupun Miki yang berkemas untuk pulang.
Pesan singkat masuk ke ponselku.
"Mau pulang jam berapa, Li? Jangan pulang malam-malam ya."
Pesan dari ibu.
Aroma ayam bakar menari-nari di hidungku. Baru saja datang, Miki langsung melahapnya seperti orang yang sudah lama menahan kelaparan. Aku mengambil sepotong paha dan menyantapnya sembari panik dengan waktu yang bergulir begitu cepat.
"Lia jangan main hape terus ya? Kita jarang lho ngobrol-ngobrol kayak gini. Kamu dari tadi diem aja."
Kali ini, Siska ikut mengomeliku. Miki menyandarkan tubuhnya dan melihat ke arahku. Berusaha mendominasiku.
"Eh, Mik. Ceritain dong liburanmu kemarin," lanjut Siska mencegah ucapan Miki yang hampir keluar dari mulutnya.
"Aku kemarin bolak-balik Jogja-Rembang naik mobil," ucap Miki yang berhasil teralihkan.
Aku melihat piringnya sudah habis, tidak bersisa.
"Wah! Berapa jam itu, Mik?" Siska terlihat antusias.
Aku melihat keduanya dengan kosong. Aku bahkan tidak bisa membayangkan Jogja ataupun Rembang itu seperti apa. Aku hanya bisa membayangkan kamarku yang membosankan.
"Lima jam dari Malang ke Rembang lanjut lima jam dari Rembang ke Jogja. Rasanya seru banget tapi kaki langsung pegel," lanjutnya dengan antusias.
"Wah! Aku kalau ke Jogja biasanya sih naik kereta jadi nggak ngerasa seseru itu," lanjut Siska.
"Tapi kalau naik kereta, aku yakin punya banyak waktu buat jalan-jalan di sana. Kalau naik mobil, harus istirahat dulu baru besoknya bisa keliling."
Miki dan Siska terus beradu pengalaman mereka soal Jogja. Aku ingin sekali bercerita tetapi aku tidak memiliki cerita apapun. Sambil mendengar keseruan mereka, aku melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Aku bingung harus berbuat apa selain langsung saja memotong pembicaraan mereka.
"Mm…maaf ya udah jam sembilan malam. Aku balik dulu," pamitku membuat Siska tersenyum.
"Aku anterin ya, Li?" tawarnya segera dipotong oleh Miki yang tiba-tiba saja berdiri.
"Aku aja. Kamu jagain tasku.”
Aku melihat Miki terkejut. Aku tidak pernah pulang bersama Miki selama ini. Aku melihat ke arah Siska.
"Aku pulang bareng Siska aja," tolakku menyulut emosi Miki yang tiba-tiba membanting rokok yang dihisapnya ke asbak dengan kasar.
"Nggak usah ribet!" ucapnya sedikit kasar lalu menarik tanganku.
Aku sengaja membiarkan tanganku ditarik menjauh dari rumah makan. Setelah dekat dengan mobilnya, aku menarik tanganku paksa.
"Kalau nggak suka aku dateng, bilang aja Mik! Nggak usah gimick!" teriakku yang sudah tidak bisa menahan emosi.
Miki tertawa kecil.
"Kenapa kok bisa mikir kayak gitu?" tantangnya lalu melipat tangannya.
"Semua perlakuanmu dan pertentanganmu soal aturan keluargaku dari dulu. Kamu selalu nyolot dan marah. Kamu bahkan hanya sekadar temen, Mik. Sori. Tapi, bahkan Siska nggak masalah sama masalahku dan berusaha ngerti," ucapku sudah tidak bisa bersabar.
"Nggak semua orang harus ngertiin kamu. Memang kamu siapa? Tokoh inspiratif? Presiden? Guru besar?" tanya Miki menangkis jawabanku dengan sangat mudah.
Aku berdiam diri bingung harus membalas apa. Namun, rasanya ingin sekali menamparnya.
"Kenapa? Kamu nggak terima temen deketmu nggak pernah ngerti kondisimu? Itu permasalahan yang harus kamu terima sebagai anak rumahan. Kamu nggak bakalan bisa belajar nerima perlakuan orang yang bersimpangan sama kamu. Karena apa? Yang kamu hadapi ya dirimu sendiri, keluargamu sendiri. Hanya orang-orang itu aja." Miki menatapku dengan jengkel dengan tangannya yang dilipat.
Mulutku terkatup rapat. Rasanya benar-benar menghantam dadaku cukup keras. Perkataannya kasar tetapi benar.
Tanganku terbuka lebar dan hendak menampar pipinya. Miki malah mendekat lalu menyodorkan pipinya dengan sukarela.
"Tampar aja kalau kata-kataku salah. Aku berani karena aku bener," ucapnya dengan tangannya yang masih ia lipat di depan dadanya.
Aku menjatuhkan tanganku dan membuang muka. Aku hampir saja menangis tetapi aku menahannya sekuat tenaga. Seharusnya aku sudah biasa menghadapi sikap Miki. Tetapi mengapa kali ini rasanya sangat menyakitkan?
Miki membuka pintu mobilnya. Ia mempersilakanku duduk di depan. Aku hanya berdiam diri. Kali ini, Miki tidak menghiraukanku dan langsung masuk ke mobilnya dengan kondisi pintu mobil terbuka.
"Kalau sampe lebih dari jam sembilan, nggak usah nyalahin orang lain. Kamu yang bikin jadi lama," tutur Miki tak memperhatikanku dan memperbaiki kaca spion mobil dalamnya.
Aku menghela napas sembari langsung masuk ke dalam mobil dan membiarkannya yang segera menginjak pedal gas mobilnya dengan kencang.
"Kenapa sih dari dulu kamu selalu nyolot kalau ngobrol sama aku? Aku salah apa sih, Mik?" tanyaku mengisi kekosongan pembicaraan ini.
Tepat saat lampu berwarna merah, Miki melihat ke arahku.
"Salahmu? Pertama, nggak percaya diri. Kedua, nggak pernah mikirin diri sendiri. Ketiga, selalu berkorban buat orang lain. Keempat, penakut. Kelima, jadi orang sungkanan. Mau aku sebutin sampe dua puluh kesalahanmu yang lain?" balasnya segera menginjak pedal gas karena lampu jalan sudah berwarna hijau.
Jleb! Lagi-lagi aku bungkam. Aku merasa semua perkataan Miki benar dan itu yang aku benci.
"Aku suka heran kenapa Siska manjain kamu. Padahal dunia yang dia ceritain itu nggak semata-mata kayak dongeng yang selalu happy ending. Lebih ribet, lebih kacau, lebih nggak masuk akal dari itu semua. Jangan salahin kalau aku keras sama kamu."
Aku melirik ke arahnya. Kenapa tiba-tiba Miki berkata seperti itu? Namun, karena rasa-rasanya air mataku hampir meluber, aku tidak bertanya dan berdiam diri.
Pada akhirnya, aku sudah sampai di rumah tepat pukul sembilan malam. Miki ikut turun dari mobil dan mengekor di belakangku sampai kami bertemu dengan ibu. Tak lama setelah itu, ia meninggalkan rumah ini tetapi tiba-tiba ia berbalik.
"Aku besok ke Jogja. Aku keterima kerja di sana. Pas aku balik dari sana dan kamu masih gini aja, Li, aku nggak bakal balik lagi ke Malang," ancamnya tiba-tiba.
Kini, aku mengerti mengapa Siska memaksaku untuk datang ke tongkrongan ternyata makan-makan itu adalah momen perpisahanku dengan Miki. Aku juga tahu alasannya mengantarku pulang saat ini.
"Kenapa gitu?" tanyaku yang kepo dengan alasannya tidak kembali ke Malang.
"Percuma. Balik ke Malang sesekali tapi kamunya nggak bisa dateng," ucapnya tiba-tiba terlihat malu-malu.
Aku tersenyum tipis.
"Udah lah. Aku balik lagi nyamperin Siska," pamitnya tergesa-gesa sampai-sampai bawaannya terjatuh di depan teras rumahku.
"Miki!" teriakku berusaha mengejarnya tetapi ia malah pergi menjauh.
Aku membawa tas itu masuk dan meletakkannya di kamarku. Ibu melihatku dengan tersenyum lalu menutup pintu kamarku. Aku menghela napas. Aku memang tidak bisa membuat semua orang bahagia. Entah itu untuk Ibu ataupun Miki dan Siska. Sampai aku tahu, ternyata Miki, orang paling jahat di hidupku selama ini, memberikanku hadiah.
"Tas yang tadi jatuh buat kamu. Da!"
Pesan singkat dari Miki sebelum ia kembali centang satu seperti biasanya.
Aku tersenyum.
"Makasih Miki," ucapku sambil melihat vlognya saat di Jogja bersama keluarga dan oleh-oleh berupa kaos, kardigan, gantungan kunci, dan bakpia kukus untukku.