Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
sumber gambar: canva "Ada kodok," ujarku santai saat melihat ada hewan amphibi masuk ke dalam cottage , tempatku ...
sumber gambar: canva
"Ada kodok," ujarku santai saat melihat ada hewan amphibi masuk ke dalam cottage, tempatku menginap di acara pembubaran panitia graduasi universitas.
Empat temanku tidak mendengarkan dan masih asik bergosip. Binar, salah satu temanku berteriak dan mulai membuat situasi menjadi ricuh. Karena teriakannya, mungkin saja, si kodok terkejut sehingga menjadikan wajah Binar sebagai tapakan kakinya untuk melompat lebih jauh, meninggalkan kami.
"Aa…!" teriaknya lebih menggelegar dan segera bersembunyi di dalam kamar.
Aku celingak-celinguk. Tidak ada orang yang bisa aku ajak bicara kecuali kodok itu. Aku kebingungan mencari alat bantu pengusir hewan berkulit licin itu.
Aku mencari kodok itu seorang diri. Karena warnanya gelap dan cottage ini terbuat dari kayu, aku merasa kesulitan mencarinya. Dari sudut ekor mataku, aku melihat bunyi suara yang berkuak. Aku melihat ada sepasang sandal hitam di dekatku. Aku berjalan mengendap-endap lalu…
Plak!
Kodok itu melompat ke luar jendela. Setelah melihat situasi aman, aku berlari menutup semua jendela dengan cepat dan memastikan semua pintu tertutup dengan benar. Aku baru bergidik ngeri membayangkan hewan yang suka melompat itu mendarat di wajah Binar lalu bersembunyi di kolong meja. Hi!
"Aman!" teriakku mengetuk pintu dimana semua temanku bersembunyi.
Binar membuka pintu dengan berhati-hati. Kemudian, ia melihat ke sekeliling dengan wajahnya yang begitu ketakutan disusul empat temanku yang lain. Mereka kembali berkumpul di depan televisi dan beradu cerita seru soal laki-laki.
Aku melipir namun aku mengurungkan niatku saat mendengar nama Evano disebut.
"Eh, Evano kan selalu jadi point of center ya, kan? Setuju nggak sih dia itu kayak nggak pernah ngerasain overthinking, masalah besar, bahkan putus cinta?" ungkap Binar memulai topik yang sepertinya disukai oleh semua temanku.
"Halah. Evano mah nakal anaknya. Ada cewek cantik disikat tapi cuma buat obat kesepiannya aja, mabuk-mabukan, ngerokok, hobi banget balapan liar, dan yang terakhir. Tukang palakin adik kelas," bisik temanku yang lain dengan nada yang menggebu-nggebu.
Anjir. Masa Evano separah itu sih? Aku berusaha membayangkan laki-laki berkulit gelap itu di pikiranku.
"Oh jadi gitu toh? Berarti selama ini dia cari muka sama kita biar kita nggak ngeh sama kenakalannya dia?" tanya Binar sepertinya mulai hanyut dalam pembicaraan.
"Yes! Makannya kadang pas dia ngelawak, aku ketawa karena emang lucu anaknya. Cuma sambil batin aja. Noh, Maya yang sering ngobrol sama Evano. Ati-ati digebet terus ditinggalin karena cuma pelarian. Ea!" sulut temanku yang lain mengundang semuanya untuk tertawa bersamaan.
"Nggak bahaya ta kita ngobrolin Evano? Evano kan di cottage sebelah?" ungkap Binar mengundangku untuk melihat ke arah cottage sebelahku.
Dari kejauhan, aku melihat Evano sedang ngobrol seru bersama teman-temannya dan saling beradu asap udut di udara. Aku segera beralih dan beranjak dari dudukku.
"Mau kemana, May?" tanya Binar yang menyusulku.
"Cari kodok lagi terus mau aku lempar ke kalian biar nggak ngegosipin orang seenak jidat! Memang kalian menggebu-gebu ngomongin orang-orang itu tahu seluk-beluknya? Lihat langsung di depan mata kalian?" ucapku setengah bercanda dengan bumbu-bumbu sindiran yang aku pertegas.
Mereka tertawa bersamaan.
"Bodo amat! Ha-ha. Penting nggak usah ngomongin kodok lagi. Masih geli banget rasanya dicium kodok!" ungkap Binar membasuh bibirnya kasar lalu bergidik ngeri.
"Jangan-jangan tuh kodok jadi pangeran sekarang. Wah! Nggak nyangka ya ini alasan kenapa Binar jomblo terus. Ternyata jodohnya pangeran kodok! Selamat ya, Bin!" celetuk temanku yang lain membuatku tertawa.
Binar memelototiku. Aku menahan tawa dan mengangkat tanganku. Suasana kini ricuh karena kodok. Ya. Setidaknya mereka berhenti mencari-cari kesalahan orang lain lagi. Kayak mereka paling bener aja. Huh. Namaste.
Aku kini keluar dari cottage dan duduk santai di teras. Ada termos listrik dan teh di dekatku. Tanpa berpikir panjang, aku segera menuangkan air mineral lalu membuat teh yang segera aku teguk.
"May!" teriak seseorang dari bawah.
Aku beranjak dan melihat ke arah bawah. Wajah Evano yang terlihat segar dengan rambut keritingnya yang tertiup angin kini tersenyum lebar. Ia mengajakku untuk turun.
"Mager! Aku mau ngeteh!" tolakku apa adanya lalu kembali duduk di teras seperti semula.
"Yah! Padahal aku udah beli banyak pop mie. Udah aku buatin lagi," rayunya terdengar nyaring hampir tenggelam karena suara burung-burung di udara yang bersahutan.
"Van! Tunggu!" teriakku bersemangat karena menyadari perutku membutuhkan makanan yang hangat.
Aku segera turun dan mendekati Evano yang sedang duduk di salah satu gazebo dekat dengan cottage-nya.
"Ihir! Ada yang kencan nih!" goda beberapa teman Evano dari dalam cottage.
"Nggak usah banyak omong! Kalau mau gabung turun aja. Gitu aja ribet!" omelku kemudian mencium aroma pop mie ndower yang diberikan oleh Evano.
Suara tawa terdengar nyaring lalu perlahan menghilang.
"Udah ketemu pangeran kodok hari ini?" tanyanya mengawali pembicaraan sembari menyeduh kuah pop mie yang ia minum seperti minum kopi.
"Udah. Tapi aku lempar sandal. Dia jadi takut. Nggak jadi pangeran deh!" celetukku menikmati makananku walaupun kepedasan.
Saat sama-sama menikmati makanan micin ini, aku teringat pada celotehan teman-temanku yang pasti ia dengar di cottage-nya.
"Iya aku denger. Tapi, aku bodo amat," ucapnya tiba-tiba seakan-akan tahu pertanyaanku.
"Wah. Kamu dukun? Peramal? Cenayang?" selidikku cukup kagum dengan kecekatannya menjawab pertanyaan yang belum aku tanyakan.
"Ha-ha. Sebenernya aku sempat kepikiran, tapi ketemu kamu aku jadi lupa ingatan," celetuknya tiba-tiba mengeluarkan kerupuk dari tangan kanannya.
"Ngelawak terus! Tapi lawakanmu keren lho bisa serima gitu," pujiku menatapnya yang sedang menikmati kerupuknya.
"Iya biar kayak kamu yang selalu terima aku apa adanya," lanjutnya kemudian membuatku tertawa keras.
"Sok tahu!" ledekku masih menikmati makanan anak kos ini.
Pada akhirnya, aku sudah menyelesaikan makananku. Begitu pula dengan Evano. Kami sekarang membaringkan tubuh kami di atas gazebo dan melihat lalu lalang teman-teman kami yang juga berpasang-pasangan dengan selingkuhannya atau memang dengan pasangan aslinya.
"May. Tapi yang dibilang Binar semuanya bener," ucap Evano tiba-tiba lalu cegukan.
Aku spontan mendekatkan botol air mineral di sebelahnya. Ia beranjak dan meminumnya hingga tersedak.
"Ya ampun! Minum yang bener!" omelku masih dalam posisi rebahan.
Aku tidak memperhatikannya lagi dan merasakan kepalaku terbentur kepala orang lain. Siapa lagi kalau bukan kepala Evano?
"Kita mau kayak apa aja yang dilihat orang itu pasti jeleknya. Biarin mereka ngelihat kamu kayak gitu. Toh, sekarang kamu udah beda. Lebih berkarisma kalau kata adek-adek tingkat kita," ucapku menuai tawa kecil dari laki-laki yang tiba-tiba menimpa tubuhnya dengan ukulelenya.
Aku beranjak dan melihatnya yang memetik ukulele itu asal-asalan tetapi terdengar merdu.
"Kayaknya tadi kamu ke bawah cuma bawa pop mie, deh. Kenapa tiba-tiba ada ukulele?" tanyaku menyelidikinya.
"Ha-ha. Rahasia," balasnya effortless.
Aku menghela napas dan menyandarkan punggungku di tiang gazebo di dekatku. Aku melihat ke arah Evano yang sedang melamun dengan napasnya yang tidak beraturan. Aku segera memalingkan mukaku.
Suara petikan ukulelenya terdengar semakin lemah. Ia kini tiba-tiba menatapku lalu tersenyum.
"Makasih ya," ucapnya tiba-tiba.
Aku tidak berani menatapnya. Tatapannya begitu dalam. Aku berusaha jaga image dan melihat ke arah udara di atas kepalanya.
"Yaelah! Orang bilang makasih malah diem!" keluh Evano membelakangiku.
Aku mengusap wajahku yang terasa panas. Bisa gawat kalau Evano tahu aku salting dilihatin kayak gitu. Kita kan cuma temen. Aku harus bisa biasa aja. Huh!
"Iya! Sama-sama! Dasar pamrih!" ejekku beranjak dari gazebo.
"He! Mau kemana!" teriak Evano bangkit dari rebahannya.
"Badmood!" ucapku asal karena masih merasa wajahku memerah.
"Apaan sih! Maya balik ke gazebo sekarang!" perintahnya tidak aku turuti.
Aku memilih naik dan kembali ke teras gazeboku lalu menyeduh minumanku.
Aku mendengar hentakan anak tangga di sisi kiriku. Aku berpikir mungkin saja teman-temanku kembali. Ternyata, aku salah. Orang yang duduk di sebelahku sekarang adalah Evano.
"He! Kamu gila ya! Ini cottage-nya cewek!" teriakku panik lalu segera menutup semua jendela dengan tirai jendela dari dalam.
Setelah semua tertutup, aku kembali keluar dan melihatnya yang menghabiskan minuman tehku.
"Enak juga ya minum teh di sini," ucapnya yang bersimpangan dengan topik pembicaraanku.
Aku tidak menanggapi dan duduk tenang sembari mengedarkan pandangan siapa tahu tiba-tiba ada kodok yang melompat ke meja kami.
"Mau sampe kapan pura-pura? Aku udah tahu kok dari awal," ucapnya beranjak dan mengajakku untuk turun dari cottage.
Aku melihatnya tanpa berkutik. Maksudnya bilang begitu apa?
"Kamu nggak mau kedengeran temen-temenmu, kan? Aku tahu tempat yang cocok kalau kamu mau," ucapnya segera menghilang dari cottage-ku.
Aku tetiba menjadi panik. Apa yang dia tahu? Aku berusaha tenang. Semakin aku terlihat khawatir, ia akan mudah menebak arti wajahku. Dengan berat hati, aku mengekor di belakangnya.
Pemandangan cottage perlahan menghilang. Kini, kami melihat kolam renang dengan warna biru yang begitu segar di mataku. Aku melihat ke arah Evano yang sudah menanggalkan kaos oblongnya tepat di sebelahku. Ia lantas melompat dan menceburkan tubuhnya yang atletis menyatu dengan air kolam renang yang begitu bersih.
"Hidup udah ribet. Jangan bikin tambah ribet. Kalau suka, bilang aja," ucapnya sebelum menenggelamkan wajahnya.
"Ha? Apaan? Sok tahu! Siapa yang suka sama kamu?" omelku menggerutu dan sekaligus panik sebenarnya.
Degup jantungku sudah tidak beraturan. Kini, Evano keluar dari kolam renang dan mengusap rambut keritingnya ke belakang hingga seluruh wajahnya terlihat.
"Kenapa kamu panik, sih?" godanya lalu tiba-tiba mengusap rambutku dan mencubit pipiku.
Aku melotot dan segera beranjak. Belum sempat aku berbicara, dia mendekat dan mengenakan kaos oblongnya lagi, berusaha membuatku nyaman.
"Aku juga panik lihat wajahmu makannya aku nyebur kolam. Maaf ya. Tiba-tiba, ngelihat aku random banget ngajak kamu kesini," ucapnya yang masih berusaha fokus melihatku.
Aku menghela napas.
"Ya setidaknya kamu nggak ngamuk-ngamuk sembarangan kayak biasanya," ucapku terbata-bata dan terus membuang muka.
"Kamu tahu aku nakal tapi kamu masih peduli. Aku tahu itu nggak gampang apalagi kamu cewek. Tapi, makasih udah sempet nggak percaya sama omongan temen-temenmu," lanjutnya kini serius menatapku.
Aku melihatnya serius. Awalnya, aku merasa itu bukan apa-apa. Aku tidak menyangka hal yang aku anggap sepele bisa menjadi sesuatu yang berkesan untuk orang lain apalagi orang lain itu Evano, laki-laki yang aku suka sejak kecil.
"Aku sebenernya takut sama cewek. Mereka itu bisa jadi baik banget terus tiba-tiba jadi galak banget hanya dalam hitungan detik," ucapnya membuyarkan wajahku yang kaku.
Aku mengerutkan dahiku.
"Nyindir siapa kamu?" omelku mulai judes padanya.
Evano tertawa keras dan tiba-tiba saja mengalungkan sesuatu di leherku. Aku melihat dan mengangkat ukiran berbentuk bulan sabit. Aku melihat ke arah lehernya yang siapa tahu juga menggunakan kalung yang sama. Namun, aku tidak menemukannya. Aku ini terlalu termakan drama Korea. Dasar aku!
"Aku juga pake kok," balasnya yang tiba-tiba menunjuk pergelangan tangannya yang mirip dengan kalungku.
"Apaan sih!" keluhku sudah lelah dengan sikapnya yang selalu tiba-tiba.
"Aku masuk angin nih kayaknya gara-gara njebur kolam," keluhnya tiba-tiba lalu menunjuk jarinya yang berkerut.
"Ih! Udah sana balik ke cottage!" ucapku lalu mendorongnya agar ia cepat kembali ke cottage-nya.
"Kayaknya acara malem aku nggak ikutan. Jangan nyariin ya?" godanya lagi dan berulang kali bersendawa.
Aku berdecak.
"Siapa yang cariin! Nggak ada!" tampisku segera menyangkal semua perkataannya.
Evano tertawa keras lalu melambaikan tangannya ke arahku. Aku tidak menanggapinya dan melihatnya yang perlahan hilang dari jangkauan mataku. Setelah ia pergi, aku tersenyum melihat kalung yang ia berikan.
"Ternyata kamu masih simpen hadiahku dulu dan kamu kembaliin ke aku. Emang nggak tahu diri! Harusnya aku ngeh kalau kamu lebih suka gelang daripada kalung. Tapi nggak nyangka juga kamu niat banget buat bikin duplikatnya," keluhku lalu berjalan kembali ke cottage dan menemui kodok yang berdiam diri dan menatapku. Di sisi lain, aku mendengar beberapa temanku yang sedang membicarakanku dan Evano di dalam cottage. Aku melihat ke arah kodok itu.
"Aku butuh bantuanmu."