Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
Desain: Microsoft Copilot dan Canva “Kamu mau kemana!” Ayah menarik tanganku cukup kencang. Ia berusaha menahanku berkemas. Namu...
Desain: Microsoft Copilot dan Canva
“Kamu mau kemana!”
Ayah menarik tanganku cukup kencang. Ia berusaha menahanku berkemas. Namun, justru karena rasa sakit hati ini, aku menjadi lebih kuat darinya.
“Jaygree!”
“Kenapa, Pa? Sudah ada berapa orang yang tewas karena kelakuan Papa?”
Matanya terbelalak; bingung mengartikan ucapanku yang begitu pedas dan tak beradab.
“Semua kekayaan ini, perhiasan yang kupakai, dan uang jutaan yang masuk ke rekeningku. Apa Papa dapatkan dari darah manusia yang nggak bersalah?”
Papa menamparku. Perkataanku memang kelewatan tetapi fakta yang kuterima tentang pekerjaan Papa jauh lebih menyayat dan penuh pengkhianatan.
“Kamu ngomong apa? Kamu sendiri lihat Papa kerja di pabrik gula selama bertahun-tahun. Nggak ada yang Papa tutup-tutupin. Itu bisnis keluarga kita turun-temurun.”
Semua foto kecelakaan kerja tragis dan sadis mengganggu pikiranku. Laporan itu kuterima dari teman lamaku yang tergiur dengan gaji tinggi dan bekerja di sana. Ikatan kontrak yang baru berjalan menghalanginya resign dari tempat itu. Katanya, korban selanjutnya adalah dia.
“Aku tidak mau menikmati kekayaan dari darah orang-orang yang sekadar ingin hidup layak dan memberi nafkah untuk keluarganya. Mama pantas bahagia sekarang karena sudah lepas dari suaminya yang seorang pembunuh!”
Plak.
Tamparan kedua melesat di wajahku. Aku hampir terpelanting. Namun, pijakan kakiku kuat sama seperti tekadku yang sudah bulat untuk meninggalkan rumah ini.
“Tarik semua kata-katamu! Masuk ke kamar dan berhenti bersikap kekanak-kanakan!”
Aku menutup koperku yang terisi penuh lalu menyeretnya. Perintahnya tak mampu mengendalikanku lagi. Rasa percayaku padanya sudah mati.
“Jaygree! Kamu mudah sekali dibohongi berita fiktif! Papa nggak akan menahan kamu. Tapi, saya pastikan kamu akan menyesal karena pergi dari kemewahan ini. Hidupmu tidak akan tenang di luar sana. Semua orang akan membenci kamu!”
Aku tersenyum sinis dan tetap melangkah pergi. Hujan membasahiku seakan tahu hari ini aku dilanda kepahitan dan rasa sakit yang tak tertahankan. Kubiarkan pakaianku basah kuyup. Sambil berpayung hujan, aku berjalan meninggalkan semua kenangan masa kecilku bersama Mama di sana. Ya, semenjak Mama meninggal hidupku bersama Papa tak ada artinya.
Nging…
Suara denging menghantam gendang telingaku. Frekuensi suaranya semakin tinggi dan menyakitkan. Aku menjerit dan menutup telingaku kuat-kuat.
Anakku sudah tahu apa yang kulakukan. Dia pergi dari rumah. Tapi, ini bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan. Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa.
Aku terbelalak. Itu suara Papa. Bagaimana bisa aku mendengarnya dari jarak yang sejauh ini?
Brak!
Seseorang tiba-tiba menabrakku. Aku terjatuh bersama dengan koperku yang hampir terlempar jauh.
“Ikut saya.”
Sebuah tangan terulur di depan wajahku. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia mengenakan hoodie hitam dan masker. Payung besar yang dibawanya menghalangi air hujan membasahi tubuhku lagi. Dengan gemetar karena kedinginan, aku beranjak dan mengikutinya.
Arah jalan penuh liku dan jebakan kutelusuri. Berulang kali aku jatuh bangun karena kecerobohanku. Namun, lelaki ber-hoodie itu tetap melangkah dan tak menghiraukanku. Sebuah markas yang terlihat ramai hadir di depan mataku. Semua mata menatapku dengan berbagai ekspresi. Rata-rata, ekspresi tidak suka.
“Saya sudah membawanya. Masih fresh, muda, dan energik.”
Prang…
Sebuah gelang terlempar ke arahku. Seseorang di balik jubah kini menghadapku. Tanpa bersuara, ia meminta bawahannya memberikan pakaian padaku.
“Ganti pakaianmu!”
“Mmm…”
“Jangan banyak bertanya! Cepat ganti!”
Aku menelan ludahku sendiri. Emosiku belum stabil. Bagiku, ini terlalu terburu-buru. Apa maksudnya? Mengapa aku harus berpakaian seperti mereka? Mereka siapa?
“Aku sudah menunggumu sejak lama. Apalagi, kamu berasal dari keluarga kaya yang sangat terpandang. Kenapa kabur dari kemewahan yang diinginkan banyak orang?”
Aku merapatkan pakaianku dan memperbaiki masker yang kukenakan. Gelang yang terlempar kubawa sebelum akhirnya mungkin kupakai dan aku tidak tahu ini apa.
“Aku nggak bisa cerita.”
Suara menggelegar terdengar darinya. Tatapan intimidasi kuterima dari orang-orang di sekitarku.
“Tipe pemendam dalam diam. Hah, aku suka karakter itu. Sepertinya, saat ini kamu sedang sangat marah. Pakai gelang itu. Kerjakan misi yang kuberikan.”
Aku mengerutkan dahi.
“Misi? Misi apa? Kamu sama sekali tidak menjelaskan apa semua ini? Jangan pancing emosiku!”
Semua lampu tiba-tiba padam. Aku terkejut. Seseorang tiba-tiba membawa obor sebagai pengganti pencahayaan di tempat ini.
Nging…
Suara berdenging tiba-tiba menyiksaku lagi.
Bereskan semuanya. Aku akan pastikan semua gaji pekerja di pabrik kita naik signifikan. Buat lowongan baru. Kita sudah menghabisi beberapa pegawai yang sudah tak berguna.
“Argh!”
Aku berteriak kencang seperti kesetanan. Telingaku terasa sakit dan rasanya ingin meledak. Suara jentikan mampu menghentikan penderitaanku dalam sekejap. Aku menatap seseorang berjubah itu dengan terkejut. Hanya berbekal satu obor, aku menangkap raut wajahnya yang samar-samar terlihat.
“Habisi orang-orang ini. Kamu sudah resmi bergabung bersama kami untuk menangkal kejahatan di dunia ini.”
Aku melihat beberapa foto musuh bebuyutanku yang pernah bermasalah denganku.
“Jangan biarkan mereka hidup tenang dengan uang yang bukan haknya. Mereka harus mendapatkan balasan setimpal atas perbuatannya.”
Bisikan itu berulang-ulang terdengar seakan menghipnotisku untuk menghancurkan mereka semua. Aku memasukkan buku death note yang diberikannya lalu mengenakan gelang yang diminta. Aku mempelajari kinerja gelang itu. Benda itu tampak tidak berguna.
“Di saat kamu bertemu dengan musuhmu, senjatamu akan muncul secara tiba-tiba. Sekarang, masuk ke portal itu. Semuanya bersiap! Kita laksanakan pekerjaan kita malam ini. Semua pergi!”
Semua orang masuk ke portalnya masing-masing. Langkah ragu tak memberikanku semangat seperti yang lainnya. Namun, suara denging di telingaku terdengar lagi. Aku segera masuk ke dalam portal untuk menghindari rasa sakitnya.
Semenjak hari itu, kepribadianku berubah 180 derajat. Semua musuh yang menyakitiku di masa lalu dengan cepat kuhabisi tanpa perlu membongkar identitasku. Gelangku mampu memunculkan pisau secara otomatis dan menghabisi lawan secara diam-diam tanpa meninggalkan jejak. Ini membuatku ketagihan. Rasa kelegaan menyeruak di dadaku. Begitu senang melihat seseorang yang mengacaukan hidupku hancur di hadapanku. Tangisan keluarga tak menjadi sesuatu penghalang. Rasa iba tak lagi kurasakan.
Dalam waktu seminggu, semua nama yang tertulis dalam death note sudah kubereskan. Tatapan sesama assassin kini lebih bersahabat. Tak jarang, mereka memuji ketangkasan dan kecerdikanku dalam mengelabui musuh. Bahkan, kini aku sudah tega menghabisi nyawa temanku yang tak bersalah. Ya, hanya karena mereka melakukan bisnis ilegal dengan tabiat untuk kesejahteraan keluarganya.
“Korban terakhir. Setelah itu, kamu berhak mendapatkan semua keuntungan dan kenikmatan duniawi di tempat ini. Kami sudah menerimamu, Jaygree.”
Mataku terpaku pada wajah korban terakhir. Papa?
“Seorang pembunuh kelas kakap yang bersembunyi di balik bisnis pabrik gula selama bertahun-tahun lamanya. Berulang kali menjadi sorotan kami tetapi selalu lolos karena ia terlalu cerdik. Kini, ia sudah menyiapkan badan keamanan yang cukup ketat yang siap menyelamatkannya dari serangan apapun bahkan pihak polisi sekalipun. Aku rasa hanya kamu yang mampu menghabisinya.”
Rasa marah menguasaiku. Lelaki tua itu adalah seseorang yang paling kubenci karena sudah menghancurkan semuanya. Tak kusangka menjadi targetku selanjutnya. Berbagai macam strategi kususun dalam kepalaku. Namun, semuanya terasa sia-sia. Papa tidak mudah dikalahkan oleh siapapun. Seolah-olah, kematian justru menghindarinya.
Kini, aku memikirkan sesuatu yang menjadi titik lemahnya. Berhari-hari kumemikirkannya, tetapi tak juga bisa menemukan caranya. Suara berdenging muncul di telingaku. Terasa lebih menyakitkan dari sebelumnya.
Jaygree sudah satu tahun tidak pulang ke rumah. Dia kemana? Aku sangat merindukannya.
Ide licik tersirat dalam pikiranku. Aku melepaskan hoodie dan membiarkan identitasku dikenali. Semua orang terkejut dengan kelakuanku.
“Apa yang kamu lakukan? Pakai pakaianmu lagi! Jangan pernah berpikiran untuk memutus perjanjian ini. Kamu tidak bisa pergi, Jaygree!”
Aku tersenyum.
“Aku nggak bakal pergi. Hanya saja, target terakhir ini cukup membahayakan kalian. Aku akan menghabisinya dengan tangan kosong tanpa membawa identitas dari pihak manapun.”
Ide yang cukup gila kurasa. Namun, aku sudah siap dengan segala resikonya.
“Kamu bisa ditangkap jika keluar seperti ini!”
“Itu adalah resiko yang kuterima. Tidak apa-apa. Kamu tak akan bisa membuat perubahan, jika kamu tidak bisa mengorbankan sesuatu.”
Semua terdiam. Pintu markas terbuka menandakan mereka percaya dengan rencanaku. Dengan langkah berani, aku berjalan menuju rumah, tempat ternyamanku dulu. Aku mengamankan gelang yang masih kugunakan. Berita kematian temanku yang bekerja di pabrik gula semakin membuatku gila. Aku sangat membenci lelaki tua itu. Bahkan, aku tak sanggup lagi menyebutnya Papa.
“Aku sudah sampai.”
Aku segera men-scan wajahku dan gerbang rumah terbuka. Dua satpam mendekatiku. Mereka tampak bingung dan tak mengenaliku.
“Aku Jaygree, anak Papa.”
Wajah curiga mereka surut dan tak lagi menghiraukanku. Saat mereka sedang bekerja, aku diam-diam menghabisi mereka dari belakang dan membuat mereka seolah-seolah sedang tidur siang. Aku berjalan menuju balkon rumah. Dua bodyguard berjaga di sana. Mereka menatapku cukup lama sambil menelepon seseorang.
“Bos, apakah dia benar anakmu?”
“Baiklah.”
Dua bodyguard itu mengizinkanku masuk. Namun, selama mereka berbincang, aku sudah merencanakan sesuatu dengan membuat perangkap di kaki mereka secara diam-diam. Saat aku melangkah masuk rumah, api menyambar tubuh mereka. Terlalu sadis, aku buang muka dan segera berlari menuju kamar lelaki tua itu. Di sepanjang balkon kutemui banyak body guard yang menjaga. Beruntungnya, tidak ada yang menyadari aksiku sebelumnya. Dalam sekejap, aku melempar asap sehingga pandangan mereka terganggu. Aku melumpuhkan semuanya sekejap dan membuat seolah-olah mereka dalam kondisi terlelap dalam jangka waktu yang lama.
Setelah membereskan semuanya, aku sudah tiba di depan pintu kamarnya. Aku mengetuknya.
“Masuk!”
Wajah riang terlukis di wajahnya. Ia memelukku dengan sangat erat. Namun, tidak ada yang kurasakan selain ingin cepat-cepat menghabisinya. Ia mengajakku minum teh di dapur tetapi aku menahannya. Aku memastikan ia tidak tahu jika semua penjaganya sudah tak bernyawa. Diam-diam, aku mengunci pintu kamarnya. Ya, karena ini rumahku aku jadi punya akses untuk melakukan itu.
“Papa senang kamu kembali, Nak. Lihat, Papa berhasil membuat pabrik gula baru. Keuntungan meningkat pesat dan jauh dari yang Papa bayangkan. Semua itu karena kesetiaan Mamamu yang selalu mendoakan Papa dari sana.”
Aku meludah. Sudah tak tahan dengan semua drama yang dibuat-buatnya. Ia terus bercerita soal kesuksesan dan uangnya. Aku tak mendengarkan.
“Kenapa Papa merekrut banyak penjaga? Papa dikejar siapa? Arwah-arwah pekerja yang mati sia-sia di pabrik gula Papa?”
Wajahnya berubah kecut. Aku sengaja memancing emosinya. Ia menatapku.
“Jaga bicaramu, Jaygree! Papa sudah ceritakan semua bahwa kekayaan ini murni dari hasil kerja keras Papa dan doa Mamamu.”
“Halah! Sekarang, aku tanya gimana kabar Olan, temanku yang Papa rekrut di pabrik? Kenapa banyak orang berlomba-lomba mengucapkan turut berduka cita untuknya?”
Ia terdiam tak berkutik. Sepertinya, ia tidak bisa mengelak dan membantah karena memang itu ulahnya.
“Dia sakit.”
Suaranya semakin pelan; tercekik kebenaran pahit yang harus diterima. Aku mendekatinya dengan mengepul tanganku kuat-kuat. Papa terlihat ketakutan dan menekan tombol darurat. Namun, tidak ada satupun yang menolongnya.
“Jaygree! Apa yang kamu lakukan!”
“Mmm… tidak banyak. Aku hanya memastikan semuanya aman terkendali dan kurasa Papa udah nggak butuh penjaga lagi. Seperti kata pepatah, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Jika Papa rela menghabisi nyawa orang lain untuk keuntungan pribadi, aku juga akan melakukan hal yang sama.”
Belum sempat membela diri, nyawanya sudah melayang dengan cepat. Tidak ada rasa sakit yang ia rasa. Tidak seperti korban-korbannya yang merasakan rasa sakit tak tertahankan sebelum akhirnya tiba di ajal mereka. Tangisanku pecah. Aku meninggalkan jasadnya yang penuh darah. Aku memeluk pigura yang menampilkan wajah Mama. Aku merasakan kekecewaannya yang mendalam atas perbuatanku.
Brak!
Beberapa orang ber-hoodie gelap masuk ke kamar. Salah satu dari mereka mendekatiku.
“Kamu bisa membereskan misi ini dengan sangat rapi. Aku akan bantu bereskan semuanya. Aku pastikan kamu aman. Semua CCTV sudah kurusak. Rumah ini akan kosong hanya dalam waktu beberapa menit tanpa jejak apapun. Kamu bisa ambil waktumu sebentar. Setelah semua beres, aku akan menjemputmu.”
Aku tidak menghiraukannya dan sibuk memeluk pigura Mama dan menangis sejadi-jadinya. Anak yang selalu ia banggakan semasa hidupnya kini berubah menjadi pembunuh berantai yang menegakkan keadilan dengan cara yang salah. Namun, semua terlambat. Aku sudah terlanjur melakukan semuanya tanpa rasa bersalah.
Aku menatap jasad Papa tanpa ekspresi. Justru, senyuman muncul di wajahku. Semuanya sudah berakhir dan keadilan hadir di depan mata. Papa akan membayar semua yang dilakukannya.
***