Desain: Microsoft Copilot dan Canva “Satu… dua… tiga… empat…. Yah, mana yang lain? Kok cuma empat doang?” omelku pada benda langit di seki...

Cahaya yang Terbakar Sendirian

/
0 Comments

 


Desain: Microsoft Copilot dan Canva


“Satu… dua… tiga… empat…. Yah, mana yang lain? Kok cuma empat doang?” omelku pada benda langit di sekitarku.

 

Semuanya saling bertatapan. 


“Hari ini mendung, Lumi. Itu bikin bintang yang lain nggak tampak karena ketutupan awan.”


Aku menggeleng; merasa jawabannya sangat tidak memuaskan.


“Terus? Kamu biarin makhluk di bumi kegelapan gitu? Nggak sedikit, lho, dari mereka yang masih kerja meski udah larut malam. Kamu mikir sampe situ nggak?” 


Benda langit lain hanya bisa berdecak; seolah tahu sifat keras kepalaku. Tapi, aku tidak peduli. 


“Lumi… nggak usah emosi. Ya, kita emang diciptakan untuk menyinari bumi saat malam. Tapi, toh, kondisi alam sekarang sudah berubah. Langit tidak sebersih dulu sehingga agak kacau. Kita nggak bisa apa-apa.”


Aku mengusap wajah lalu menutupi tiga bintang yang tampak tak berguna.


“Kalian minggir aja sana! Makhluk bumi lebih butuh bintang yang selalu bersinar terang. Ini nggak ada sangkut pautnya sama alam. Niat dan motivasi kalian aja yang kurang.”


Aku memancarkan sinarku dengan mentereng. Aku cukup percaya diri meskipun tak jarang lelah karena merasa paling worth it. Karena kerja kerasku, aku berhasil membantu makhluk bumi yang sedang berlayar dan menemani bos bulan yang selalu siaga dan tepat waktu.


“Lumi… ini sudah pagi. Seterang apapun kamu, nggak bakalan lebih terang dari matahari. Sana tidur!” usir bos bulan yang menguap berulang kali.


Aku menggeleng. Walaupun tidak terlihat, aku tetap menjalankan kewajibanku dengan giat. 


“Ya sudah. Terserah kamu.” 


Aku kini seorang diri. Jarakku dan matahari terlalu jauh sehingga kami tidak akrab. Berulang kali mataku sakit karena pancarannya yang begitu terik. Namun, aku tidak menyerah sedikit pun; aku masih bertahan.

 

“Nggak kuat!” 


Semangat itu ternyata hanya bertahan hingga matahari terbenam. Kini, justru di saat aku harus bersinar, perlahan cahaya di tubuhku meredup. 


“Kamu kenapa, Lum?”


Belum sempat menjawab, tiba-tiba tubuhku terjun menghantam tanah di permukaan bumi. Banyak luka di tubuhku karena menabrak lapisan-lapisan atmosfer yang seharusnya tidak kulampaui. 


Aku menatap langit malam. Dari tempatku sekarang, beberapa temanku yang bersinar di sana hanya terlihat seperti titik yang berkilauan. Terlihat sangat tidak berarti. Di sini, aku menyadari sesuatu.


“Ternyata, aku hanya sekecil itu. Kenapa bisa-bisanya aku merasa mampu menerangi bumi seluas ini? Lumi payah!”

 

Beberapa kali, aku memukul kepalaku; malu dengan sikapku sendiri.


Karena kebodohanku juga, sekarang aku terlantar. Entah, di mana ini. Aku jelas-jelas tidak bisa kembali ke atas sana.


“Lumi… kenapa kamu di sana? Biasanya, kamu paling semangat ada di dekatku,” sindir bos bulan dari kejauhan.


Aku tersenyum kecut dan tidak menjawabnya.


“Istirahat saja. Sudah berapa lama kami biarkan matamu terjaga? Pastikan sebelum menyenangkan orang lain, kamu juga bahagia.”


Aku menggeleng; tidak mau mendengarkannya.


“Istirahat? Sejak kapan, benda langit istirahat?”


“Berhenti keras dengan dirimu Lumi. Bahkan, tanpa kamu pun langit malam tetap indah!” 


Jleb!


Kata-kata itu menyakitiku. Mulutku terdiam seketika setuju dengan kenyataan itu. Semua makhluk bumi masih terlihat nyaman dan tenang meskipun langit tak berbintang. Jadi, apakah peranku penting? Tidak terlalu. 


“Tidurlah, Lumi. Aku pastikan. Setelah kamu bangun, kamu sudah bersama dengan teman-temanmu.”


Bos bulan tidak pernah main-main dengan ucapannya. Aku ingin kembali ke rumahku. 


“Bagaimana caranya tidur?” 


Bos bulan menghela napas. Ia tertegun mendengar pertanyaanku yang tidak berbobot. 


“Kamu harus berani melepaskan semuanya dan pejamkan matamu. Tanamkan dalam dirimu bahwa dunia nggak bakal hancur kalau kamu tidur.”


Kata-kata itu meneguhkanku. Aku mencobanya perlahan. Semuanya menjadi gelap tetapi kurasakan syaraf mataku yang berdenyut. Rasanya begitu nyaman melakukannya. Aku semakin sadar aku tidak mampu hidup seorang diri. Kesadaranku sudah menghilang.

***


Malam itu, Lumi tidur nyenyak. Dan untuk pertama kalinya, dia merasa damai.

Karena dia tahu: menjadi cahaya tidak berarti harus terbakar sendiri.”


“Menjadi terang untuk orang lain itu baik, namun menjadi terlalu terang untuk jalan orang lain itu kurang tepat. Karena aku, kamu, dan semuanya selalu perlu waktu untuk lebih bahagia dan menemukan arti hidup setiap hari.”



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger