Cahaya yang Terbakar Sendirian

 


Desain: Microsoft Copilot dan Canva


“Satu… dua… tiga… empat…. Yah, mana yang lain? Kok cuma empat doang?” omelku pada benda langit di sekitarku.

 

Semuanya saling bertatapan. 


“Hari ini mendung, Lumi. Itu bikin bintang yang lain nggak tampak karena ketutupan awan.”


Aku menggeleng; merasa jawabannya sangat tidak memuaskan.


“Terus? Kamu biarin makhluk di bumi kegelapan gitu? Nggak sedikit, lho, dari mereka yang masih kerja meski udah larut malam. Kamu mikir sampe situ nggak?” 


Benda langit lain hanya bisa berdecak; seolah tahu sifat keras kepalaku. Tapi, aku tidak peduli. 


“Lumi… nggak usah emosi. Ya, kita emang diciptakan untuk menyinari bumi saat malam. Tapi, toh, kondisi alam sekarang sudah berubah. Langit tidak sebersih dulu sehingga agak kacau. Kita nggak bisa apa-apa.”


Aku mengusap wajah lalu menutupi tiga bintang yang tampak tak berguna.


“Kalian minggir aja sana! Makhluk bumi lebih butuh bintang yang selalu bersinar terang. Ini nggak ada sangkut pautnya sama alam. Niat dan motivasi kalian aja yang kurang.”


Aku memancarkan sinarku dengan mentereng. Aku cukup percaya diri meskipun tak jarang lelah karena merasa paling worth it. Karena kerja kerasku, aku berhasil membantu makhluk bumi yang sedang berlayar dan menemani bos bulan yang selalu siaga dan tepat waktu.


“Lumi… ini sudah pagi. Seterang apapun kamu, nggak bakalan lebih terang dari matahari. Sana tidur!” usir bos bulan yang menguap berulang kali.


Aku menggeleng. Walaupun tidak terlihat, aku tetap menjalankan kewajibanku dengan giat. 


“Ya sudah. Terserah kamu.” 


Aku kini seorang diri. Jarakku dan matahari terlalu jauh sehingga kami tidak akrab. Berulang kali mataku sakit karena pancarannya yang begitu terik. Namun, aku tidak menyerah sedikit pun; aku masih bertahan.

 

“Nggak kuat!” 


Semangat itu ternyata hanya bertahan hingga matahari terbenam. Kini, justru di saat aku harus bersinar, perlahan cahaya di tubuhku meredup. 


“Kamu kenapa, Lum?”


Belum sempat menjawab, tiba-tiba tubuhku terjun menghantam tanah di permukaan bumi. Banyak luka di tubuhku karena menabrak lapisan-lapisan atmosfer yang seharusnya tidak kulampaui. 


Aku menatap langit malam. Dari tempatku sekarang, beberapa temanku yang bersinar di sana hanya terlihat seperti titik yang berkilauan. Terlihat sangat tidak berarti. Di sini, aku menyadari sesuatu.


“Ternyata, aku hanya sekecil itu. Kenapa bisa-bisanya aku merasa mampu menerangi bumi seluas ini? Lumi payah!”

 

Beberapa kali, aku memukul kepalaku; malu dengan sikapku sendiri.


Karena kebodohanku juga, sekarang aku terlantar. Entah, di mana ini. Aku jelas-jelas tidak bisa kembali ke atas sana.


“Lumi… kenapa kamu di sana? Biasanya, kamu paling semangat ada di dekatku,” sindir bos bulan dari kejauhan.


Aku tersenyum kecut dan tidak menjawabnya.


“Istirahat saja. Sudah berapa lama kami biarkan matamu terjaga? Pastikan sebelum menyenangkan orang lain, kamu juga bahagia.”


Aku menggeleng; tidak mau mendengarkannya.


“Istirahat? Sejak kapan, benda langit istirahat?”


“Berhenti keras dengan dirimu Lumi. Bahkan, tanpa kamu pun langit malam tetap indah!” 


Jleb!


Kata-kata itu menyakitiku. Mulutku terdiam seketika setuju dengan kenyataan itu. Semua makhluk bumi masih terlihat nyaman dan tenang meskipun langit tak berbintang. Jadi, apakah peranku penting? Tidak terlalu. 


“Tidurlah, Lumi. Aku pastikan. Setelah kamu bangun, kamu sudah bersama dengan teman-temanmu.”


Bos bulan tidak pernah main-main dengan ucapannya. Aku ingin kembali ke rumahku. 


“Bagaimana caranya tidur?” 


Bos bulan menghela napas. Ia tertegun mendengar pertanyaanku yang tidak berbobot. 


“Kamu harus berani melepaskan semuanya dan pejamkan matamu. Tanamkan dalam dirimu bahwa dunia nggak bakal hancur kalau kamu tidur.”


Kata-kata itu meneguhkanku. Aku mencobanya perlahan. Semuanya menjadi gelap tetapi kurasakan syaraf mataku yang berdenyut. Rasanya begitu nyaman melakukannya. Aku semakin sadar aku tidak mampu hidup seorang diri. Kesadaranku sudah menghilang.

***


Malam itu, Lumi tidur nyenyak. Dan untuk pertama kalinya, dia merasa damai.

Karena dia tahu: menjadi cahaya tidak berarti harus terbakar sendiri.”


“Menjadi terang untuk orang lain itu baik, namun menjadi terlalu terang untuk jalan orang lain itu kurang tepat. Karena aku, kamu, dan semuanya selalu perlu waktu untuk lebih bahagia dan menemukan arti hidup setiap hari.”

Pengorbanan Darah

 

Desain: Microsoft Copilot dan Canva

    “Kamu mau kemana!”

    Ayah menarik tanganku cukup kencang. Ia berusaha menahanku berkemas. Namun, justru karena rasa sakit hati ini, aku menjadi lebih kuat darinya. 

    “Jaygree!”

    “Kenapa, Pa? Sudah ada berapa orang yang tewas karena kelakuan Papa?”

    Matanya terbelalak; bingung mengartikan ucapanku yang begitu pedas dan tak beradab.

    “Semua kekayaan ini, perhiasan yang kupakai, dan uang jutaan yang masuk ke rekeningku. Apa Papa dapatkan dari darah manusia yang nggak bersalah?” 

    Papa menamparku. Perkataanku memang kelewatan tetapi fakta yang kuterima tentang pekerjaan Papa jauh lebih menyayat dan penuh pengkhianatan.

    “Kamu ngomong apa? Kamu sendiri lihat Papa kerja di pabrik gula selama bertahun-tahun. Nggak ada yang Papa tutup-tutupin. Itu bisnis keluarga kita turun-temurun.”

    Semua foto kecelakaan kerja tragis dan sadis mengganggu pikiranku. Laporan itu kuterima dari teman lamaku yang tergiur dengan gaji tinggi dan bekerja di sana. Ikatan kontrak yang baru berjalan menghalanginya resign dari tempat itu. Katanya, korban selanjutnya adalah dia. 

    “Aku tidak mau menikmati kekayaan dari darah orang-orang yang sekadar ingin hidup layak dan memberi nafkah untuk keluarganya. Mama pantas bahagia sekarang karena sudah lepas dari suaminya yang seorang pembunuh!” 

    Plak.

    Tamparan kedua melesat di wajahku. Aku hampir terpelanting. Namun, pijakan kakiku kuat sama seperti tekadku yang sudah bulat untuk meninggalkan rumah ini. 

    “Tarik semua kata-katamu! Masuk ke kamar dan berhenti bersikap kekanak-kanakan!” 

    Aku menutup koperku yang terisi penuh lalu menyeretnya. Perintahnya tak mampu mengendalikanku lagi. Rasa percayaku padanya sudah mati. 

    “Jaygree! Kamu mudah sekali dibohongi berita fiktif! Papa nggak akan menahan kamu. Tapi, saya pastikan kamu akan menyesal karena pergi dari kemewahan ini. Hidupmu tidak akan tenang di luar sana. Semua orang akan membenci kamu!” 

    Aku tersenyum sinis dan tetap melangkah pergi. Hujan membasahiku seakan tahu hari ini aku dilanda kepahitan dan rasa sakit yang tak tertahankan. Kubiarkan pakaianku basah kuyup. Sambil berpayung hujan, aku berjalan meninggalkan semua kenangan masa kecilku bersama Mama di sana. Ya, semenjak Mama meninggal hidupku bersama Papa tak ada artinya. 

    Nging…

    Suara denging menghantam gendang telingaku. Frekuensi suaranya semakin tinggi dan menyakitkan. Aku menjerit dan menutup telingaku kuat-kuat.

    Anakku sudah tahu apa yang kulakukan. Dia pergi dari rumah. Tapi, ini bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan. Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. 

    Aku terbelalak. Itu suara Papa. Bagaimana bisa aku mendengarnya dari jarak yang sejauh ini? 

    Brak!

    Seseorang tiba-tiba menabrakku. Aku terjatuh bersama dengan koperku yang hampir terlempar jauh. 

    “Ikut saya.”

    Sebuah tangan terulur di depan wajahku. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia mengenakan hoodie hitam dan masker. Payung besar yang dibawanya menghalangi air hujan membasahi tubuhku lagi. Dengan gemetar karena kedinginan, aku beranjak dan mengikutinya. 

    Arah jalan penuh liku dan jebakan kutelusuri. Berulang kali aku jatuh bangun karena kecerobohanku. Namun, lelaki ber-hoodie itu tetap melangkah dan tak menghiraukanku. Sebuah markas yang terlihat ramai hadir di depan mataku. Semua mata menatapku dengan berbagai ekspresi. Rata-rata, ekspresi tidak suka. 

    “Saya sudah membawanya. Masih fresh, muda, dan energik.”

    Prang…

    Sebuah gelang terlempar ke arahku. Seseorang di balik jubah kini menghadapku. Tanpa bersuara, ia meminta bawahannya memberikan pakaian padaku. 

    “Ganti pakaianmu!”

    “Mmm…”

    “Jangan banyak bertanya! Cepat ganti!”

    Aku menelan ludahku sendiri. Emosiku belum stabil. Bagiku, ini terlalu terburu-buru. Apa maksudnya? Mengapa aku harus berpakaian seperti mereka? Mereka siapa? 

    “Aku sudah menunggumu sejak lama. Apalagi, kamu berasal dari keluarga kaya yang sangat terpandang. Kenapa kabur dari kemewahan yang diinginkan banyak orang?”

    Aku merapatkan pakaianku dan memperbaiki masker yang kukenakan. Gelang yang terlempar kubawa sebelum akhirnya mungkin kupakai dan aku tidak tahu ini apa. 

    “Aku nggak bisa cerita.”

    Suara menggelegar terdengar darinya. Tatapan intimidasi kuterima dari orang-orang di sekitarku.

    “Tipe pemendam dalam diam. Hah, aku suka karakter itu. Sepertinya, saat ini kamu sedang sangat marah. Pakai gelang itu. Kerjakan misi yang kuberikan.”

    Aku mengerutkan dahi. 

    “Misi? Misi apa? Kamu sama sekali tidak menjelaskan apa semua ini? Jangan pancing emosiku!” 

    Semua lampu tiba-tiba padam. Aku terkejut. Seseorang tiba-tiba membawa obor sebagai pengganti pencahayaan di tempat ini. 

    Nging…

    Suara berdenging tiba-tiba menyiksaku lagi.

    Bereskan semuanya. Aku akan pastikan semua gaji pekerja di pabrik kita naik signifikan. Buat lowongan baru. Kita sudah menghabisi beberapa pegawai yang sudah tak berguna. 

    “Argh!” 

    Aku berteriak kencang seperti kesetanan. Telingaku terasa sakit dan rasanya ingin meledak. Suara jentikan mampu menghentikan penderitaanku dalam sekejap. Aku menatap seseorang berjubah itu dengan terkejut. Hanya berbekal satu obor, aku menangkap raut wajahnya yang samar-samar terlihat. 

    “Habisi orang-orang ini. Kamu sudah resmi bergabung bersama kami untuk menangkal kejahatan di dunia ini.”

    Aku melihat beberapa foto musuh bebuyutanku yang pernah bermasalah denganku. 

    “Jangan biarkan mereka hidup tenang dengan uang yang bukan haknya. Mereka harus mendapatkan balasan setimpal atas perbuatannya.”

    Bisikan itu berulang-ulang terdengar seakan menghipnotisku untuk menghancurkan mereka semua. Aku memasukkan buku death note yang diberikannya lalu mengenakan gelang yang diminta. Aku mempelajari kinerja gelang itu. Benda itu tampak tidak berguna. 

    “Di saat kamu bertemu dengan musuhmu, senjatamu akan muncul secara tiba-tiba. Sekarang, masuk ke portal itu. Semuanya bersiap! Kita laksanakan pekerjaan kita malam ini. Semua pergi!”

    Semua orang masuk ke portalnya masing-masing. Langkah ragu tak memberikanku semangat seperti yang lainnya. Namun, suara denging di telingaku terdengar lagi. Aku segera masuk ke dalam portal untuk menghindari rasa sakitnya. 

    Semenjak hari itu, kepribadianku berubah 180 derajat. Semua musuh yang menyakitiku di masa lalu dengan cepat kuhabisi tanpa perlu membongkar identitasku. Gelangku mampu memunculkan pisau secara otomatis dan menghabisi lawan secara diam-diam tanpa meninggalkan jejak. Ini membuatku ketagihan. Rasa kelegaan menyeruak di dadaku. Begitu senang melihat seseorang yang mengacaukan hidupku hancur di hadapanku. Tangisan keluarga tak menjadi sesuatu penghalang. Rasa iba tak lagi kurasakan. 

    Dalam waktu seminggu, semua nama yang tertulis dalam death note sudah kubereskan. Tatapan sesama assassin kini lebih bersahabat. Tak jarang, mereka memuji ketangkasan dan kecerdikanku dalam mengelabui musuh. Bahkan, kini aku sudah tega menghabisi nyawa temanku yang tak bersalah. Ya, hanya karena mereka melakukan bisnis ilegal dengan tabiat untuk kesejahteraan keluarganya.

    “Korban terakhir. Setelah itu, kamu berhak mendapatkan semua keuntungan dan kenikmatan duniawi di tempat ini. Kami sudah menerimamu, Jaygree.”

    Mataku terpaku pada wajah korban terakhir. Papa? 

    “Seorang pembunuh kelas kakap yang bersembunyi di balik bisnis pabrik gula selama bertahun-tahun lamanya. Berulang kali menjadi sorotan kami tetapi selalu lolos karena ia terlalu cerdik. Kini, ia sudah menyiapkan badan keamanan yang cukup ketat yang siap menyelamatkannya dari serangan apapun bahkan pihak polisi sekalipun. Aku rasa hanya kamu yang mampu menghabisinya.”

    Rasa marah menguasaiku. Lelaki tua itu adalah seseorang yang paling kubenci karena sudah menghancurkan semuanya. Tak kusangka menjadi targetku selanjutnya. Berbagai macam strategi kususun dalam kepalaku. Namun, semuanya terasa sia-sia. Papa tidak mudah dikalahkan oleh siapapun. Seolah-olah, kematian justru menghindarinya. 

    Kini, aku memikirkan sesuatu yang menjadi titik lemahnya. Berhari-hari kumemikirkannya, tetapi tak juga bisa menemukan caranya. Suara berdenging muncul di telingaku. Terasa lebih menyakitkan dari sebelumnya.

    Jaygree sudah satu tahun tidak pulang ke rumah. Dia kemana? Aku sangat merindukannya. 

    Ide licik tersirat dalam pikiranku. Aku melepaskan hoodie dan membiarkan identitasku dikenali.   Semua orang terkejut dengan kelakuanku.

    “Apa yang kamu lakukan? Pakai pakaianmu lagi! Jangan pernah berpikiran untuk memutus perjanjian ini. Kamu tidak bisa pergi, Jaygree!”

    Aku tersenyum.

    “Aku nggak bakal pergi. Hanya saja, target terakhir ini cukup membahayakan kalian. Aku akan menghabisinya dengan tangan kosong tanpa membawa identitas dari pihak manapun.”

    Ide yang cukup gila kurasa. Namun, aku sudah siap dengan segala resikonya. 

    “Kamu bisa ditangkap jika keluar seperti ini!”

    “Itu adalah resiko yang kuterima. Tidak apa-apa. Kamu tak akan bisa membuat perubahan, jika kamu tidak bisa mengorbankan sesuatu.”    

    Semua terdiam. Pintu markas terbuka menandakan mereka percaya dengan rencanaku. Dengan langkah berani, aku berjalan menuju rumah, tempat ternyamanku dulu. Aku mengamankan gelang yang masih kugunakan. Berita kematian temanku yang bekerja di pabrik gula semakin membuatku gila. Aku sangat membenci lelaki tua itu. Bahkan, aku tak sanggup lagi menyebutnya Papa. 

    “Aku sudah sampai.”

    Aku segera men-scan wajahku dan gerbang rumah terbuka. Dua satpam mendekatiku. Mereka tampak bingung dan tak mengenaliku. 

    “Aku Jaygree, anak Papa.”

    Wajah curiga mereka surut dan tak lagi menghiraukanku. Saat mereka sedang bekerja, aku diam-diam menghabisi mereka dari belakang dan membuat mereka seolah-seolah sedang tidur siang. Aku berjalan menuju balkon rumah. Dua bodyguard berjaga di sana. Mereka menatapku cukup lama sambil menelepon seseorang.

    “Bos, apakah dia benar anakmu?”

    “Baiklah.”

    Dua bodyguard itu mengizinkanku masuk. Namun, selama mereka berbincang, aku sudah merencanakan sesuatu dengan membuat perangkap di kaki mereka secara diam-diam. Saat aku melangkah masuk rumah, api menyambar tubuh mereka. Terlalu sadis, aku buang muka dan segera berlari menuju kamar lelaki tua itu. Di sepanjang balkon kutemui banyak body guard yang menjaga. Beruntungnya, tidak ada yang menyadari aksiku sebelumnya. Dalam sekejap, aku melempar asap sehingga pandangan mereka terganggu. Aku melumpuhkan semuanya sekejap dan membuat seolah-olah mereka dalam kondisi terlelap dalam jangka waktu yang lama. 

    Setelah membereskan semuanya, aku sudah tiba di depan pintu kamarnya. Aku mengetuknya.

    “Masuk!”

    Wajah riang terlukis di wajahnya. Ia memelukku dengan sangat erat. Namun, tidak ada yang kurasakan selain ingin cepat-cepat menghabisinya. Ia mengajakku minum teh di dapur tetapi aku menahannya. Aku memastikan ia tidak tahu jika semua penjaganya sudah tak bernyawa. Diam-diam, aku mengunci pintu kamarnya. Ya, karena ini rumahku aku jadi punya akses untuk melakukan itu. 

    “Papa senang kamu kembali, Nak. Lihat, Papa berhasil membuat pabrik gula baru. Keuntungan meningkat pesat dan jauh dari yang Papa bayangkan. Semua itu karena kesetiaan Mamamu yang selalu mendoakan Papa dari sana.”

    Aku meludah. Sudah tak tahan dengan semua drama yang dibuat-buatnya. Ia terus bercerita soal kesuksesan dan uangnya. Aku tak mendengarkan. 

    “Kenapa Papa merekrut banyak penjaga? Papa dikejar siapa? Arwah-arwah pekerja yang mati sia-sia di pabrik gula Papa?”

    Wajahnya berubah kecut. Aku sengaja memancing emosinya. Ia menatapku. 

    “Jaga bicaramu, Jaygree! Papa sudah ceritakan semua bahwa kekayaan ini murni dari hasil kerja keras Papa dan doa Mamamu.”

    “Halah! Sekarang, aku tanya gimana kabar Olan, temanku yang Papa rekrut di pabrik? Kenapa banyak orang berlomba-lomba mengucapkan turut berduka cita untuknya?”

    Ia terdiam tak berkutik. Sepertinya, ia tidak bisa mengelak dan membantah karena memang itu ulahnya. 

    “Dia sakit.”

    Suaranya semakin pelan; tercekik kebenaran pahit yang harus diterima. Aku mendekatinya dengan mengepul tanganku kuat-kuat. Papa terlihat ketakutan dan menekan tombol darurat. Namun, tidak ada satupun yang menolongnya. 

    “Jaygree! Apa yang kamu lakukan!”

    “Mmm… tidak banyak. Aku hanya memastikan semuanya aman terkendali dan kurasa Papa udah nggak butuh penjaga lagi. Seperti kata pepatah, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Jika Papa rela menghabisi nyawa orang lain untuk keuntungan pribadi, aku juga akan melakukan hal yang sama.”

    Belum sempat membela diri, nyawanya sudah melayang dengan cepat. Tidak ada rasa sakit yang ia rasa. Tidak seperti korban-korbannya yang merasakan rasa sakit tak tertahankan sebelum akhirnya tiba di ajal mereka. Tangisanku pecah. Aku meninggalkan jasadnya yang penuh darah. Aku memeluk pigura yang menampilkan wajah Mama. Aku merasakan kekecewaannya yang mendalam atas perbuatanku. 

    Brak!

    Beberapa orang ber-hoodie gelap masuk ke kamar. Salah satu dari mereka mendekatiku.

    “Kamu bisa membereskan misi ini dengan sangat rapi. Aku akan bantu bereskan semuanya. Aku pastikan kamu aman. Semua CCTV sudah kurusak. Rumah ini akan kosong hanya dalam waktu beberapa menit tanpa jejak apapun. Kamu bisa ambil waktumu sebentar. Setelah semua beres, aku akan menjemputmu.”

    Aku tidak menghiraukannya dan sibuk memeluk pigura Mama dan menangis sejadi-jadinya. Anak yang selalu ia banggakan semasa hidupnya kini berubah menjadi pembunuh berantai yang menegakkan keadilan dengan cara yang salah. Namun, semua terlambat. Aku sudah terlanjur melakukan semuanya tanpa rasa bersalah. 

    Aku menatap jasad Papa tanpa ekspresi. Justru, senyuman muncul di wajahku. Semuanya sudah berakhir dan keadilan hadir di depan mata. Papa akan membayar semua yang dilakukannya. 

***

Serangan

 

sumber gambar: canva

            "Ada kodok," ujarku santai saat melihat ada hewan amphibi masuk ke dalam cottage, tempatku menginap di acara pembubaran panitia graduasi universitas. 

Empat temanku tidak mendengarkan dan masih asik bergosip. Binar, salah satu temanku berteriak dan mulai membuat situasi menjadi ricuh. Karena teriakannya, mungkin saja, si kodok terkejut sehingga menjadikan wajah Binar sebagai tapakan kakinya untuk melompat lebih jauh, meninggalkan kami.

"Aa…!" teriaknya lebih menggelegar dan segera bersembunyi di dalam kamar. 

Aku celingak-celinguk. Tidak ada orang yang bisa aku ajak bicara kecuali kodok itu. Aku kebingungan mencari alat bantu pengusir hewan berkulit licin itu. 

Aku mencari kodok itu seorang diri. Karena warnanya gelap dan cottage ini terbuat dari kayu, aku merasa kesulitan mencarinya. Dari sudut ekor mataku, aku melihat bunyi suara yang berkuak. Aku melihat ada sepasang sandal hitam di dekatku. Aku berjalan mengendap-endap lalu…

Plak!

Kodok itu melompat ke luar jendela. Setelah melihat situasi aman, aku berlari menutup semua jendela dengan cepat dan memastikan semua pintu tertutup dengan benar. Aku baru bergidik ngeri membayangkan hewan yang suka melompat itu mendarat di wajah Binar lalu bersembunyi di kolong meja. Hi! 

"Aman!" teriakku mengetuk pintu dimana semua temanku bersembunyi. 

Binar membuka pintu dengan berhati-hati. Kemudian, ia melihat ke sekeliling dengan wajahnya yang begitu ketakutan disusul empat temanku yang lain. Mereka kembali berkumpul di depan televisi dan beradu cerita seru soal laki-laki. 

Aku melipir namun aku mengurungkan niatku saat mendengar nama Evano disebut.

"Eh, Evano kan selalu jadi point of center ya, kan? Setuju nggak sih dia itu kayak nggak pernah ngerasain overthinking, masalah besar, bahkan putus cinta?" ungkap Binar memulai topik yang sepertinya disukai oleh semua temanku.

"Halah. Evano mah nakal anaknya. Ada cewek cantik disikat tapi cuma buat obat kesepiannya aja, mabuk-mabukan, ngerokok, hobi banget balapan liar, dan yang terakhir. Tukang palakin adik kelas," bisik temanku yang lain dengan nada yang menggebu-nggebu.

Anjir. Masa Evano separah itu sih? Aku berusaha membayangkan laki-laki berkulit gelap itu di pikiranku. 

"Oh jadi gitu toh? Berarti selama ini dia cari muka sama kita biar kita nggak ngeh sama kenakalannya dia?" tanya Binar sepertinya mulai hanyut dalam pembicaraan.

"Yes! Makannya kadang pas dia ngelawak, aku ketawa karena emang lucu anaknya. Cuma sambil batin aja. Noh, Maya yang sering ngobrol sama Evano. Ati-ati digebet terus ditinggalin karena cuma pelarian. Ea!" sulut temanku yang lain mengundang semuanya untuk tertawa bersamaan.

"Nggak bahaya ta kita ngobrolin Evano? Evano kan di cottage sebelah?" ungkap Binar mengundangku untuk melihat ke arah cottage sebelahku. 

Dari kejauhan, aku melihat Evano sedang ngobrol seru bersama teman-temannya dan saling beradu asap udut di udara. Aku segera beralih dan beranjak dari dudukku. 

"Mau kemana, May?" tanya Binar yang menyusulku.

"Cari kodok lagi terus mau aku lempar ke kalian biar nggak ngegosipin orang seenak jidat! Memang kalian menggebu-gebu ngomongin orang-orang itu tahu seluk-beluknya? Lihat langsung di depan mata kalian?" ucapku setengah bercanda dengan bumbu-bumbu sindiran yang aku pertegas.

Mereka tertawa bersamaan.

"Bodo amat! Ha-ha. Penting nggak usah ngomongin kodok lagi. Masih geli banget rasanya dicium kodok!" ungkap Binar membasuh bibirnya kasar lalu bergidik ngeri.

"Jangan-jangan tuh kodok jadi pangeran sekarang. Wah! Nggak nyangka ya ini alasan kenapa Binar jomblo terus. Ternyata jodohnya pangeran kodok! Selamat ya, Bin!" celetuk temanku yang lain membuatku tertawa.

Binar memelototiku. Aku menahan tawa dan mengangkat tanganku. Suasana kini ricuh karena kodok. Ya. Setidaknya mereka berhenti mencari-cari kesalahan orang lain lagi. Kayak mereka paling bener aja. Huh. Namaste. 

Aku kini keluar dari cottage dan duduk santai di teras. Ada termos listrik dan teh di dekatku. Tanpa berpikir panjang, aku segera menuangkan air mineral lalu membuat teh yang segera aku teguk. 

"May!" teriak seseorang dari bawah. 

Aku beranjak dan melihat ke arah bawah. Wajah Evano yang terlihat segar dengan rambut keritingnya yang tertiup angin kini tersenyum lebar. Ia mengajakku untuk turun. 

"Mager! Aku mau ngeteh!" tolakku apa adanya lalu kembali duduk di teras seperti semula.

"Yah! Padahal aku udah beli banyak pop mie. Udah aku buatin lagi," rayunya terdengar nyaring hampir tenggelam karena suara burung-burung di udara yang bersahutan.

"Van! Tunggu!" teriakku bersemangat karena menyadari perutku membutuhkan makanan yang hangat.

Aku segera turun dan mendekati Evano yang sedang duduk di salah satu gazebo dekat dengan cottage-nya.

"Ihir! Ada yang kencan nih!" goda beberapa teman Evano dari dalam cottage.

"Nggak usah banyak omong! Kalau mau gabung turun aja. Gitu aja ribet!" omelku kemudian mencium aroma pop mie ndower yang diberikan oleh Evano.

Suara tawa terdengar nyaring lalu perlahan menghilang.

"Udah ketemu pangeran kodok hari ini?" tanyanya mengawali pembicaraan sembari menyeduh kuah pop mie yang ia minum seperti minum kopi.

"Udah. Tapi aku lempar sandal. Dia jadi takut. Nggak jadi pangeran deh!" celetukku menikmati makananku walaupun kepedasan.

Saat sama-sama menikmati makanan micin ini, aku teringat pada celotehan teman-temanku yang pasti ia dengar di cottage-nya.

"Iya aku denger. Tapi, aku bodo amat," ucapnya tiba-tiba seakan-akan tahu pertanyaanku.

"Wah. Kamu dukun? Peramal? Cenayang?" selidikku cukup kagum dengan kecekatannya menjawab pertanyaan yang belum aku tanyakan.

"Ha-ha. Sebenernya aku sempat kepikiran, tapi ketemu kamu aku jadi lupa ingatan," celetuknya tiba-tiba mengeluarkan kerupuk dari tangan kanannya.

"Ngelawak terus! Tapi lawakanmu keren lho bisa serima gitu," pujiku menatapnya yang sedang menikmati kerupuknya.

"Iya biar kayak kamu yang selalu terima aku apa adanya," lanjutnya kemudian membuatku tertawa keras.

"Sok tahu!" ledekku masih menikmati makanan anak kos ini.

Pada akhirnya, aku sudah menyelesaikan makananku. Begitu pula dengan Evano. Kami sekarang membaringkan tubuh kami di atas gazebo dan melihat lalu lalang teman-teman kami yang juga berpasang-pasangan dengan selingkuhannya atau memang dengan pasangan aslinya.

"May. Tapi yang dibilang Binar semuanya bener," ucap Evano tiba-tiba lalu cegukan. 

Aku spontan mendekatkan botol air mineral di sebelahnya. Ia beranjak dan meminumnya hingga tersedak.

"Ya ampun! Minum yang bener!" omelku masih dalam posisi rebahan.

Aku tidak memperhatikannya lagi dan merasakan kepalaku terbentur kepala orang lain. Siapa lagi kalau bukan kepala Evano?

"Kita mau kayak apa aja yang dilihat orang itu pasti jeleknya. Biarin mereka ngelihat kamu kayak gitu. Toh, sekarang kamu udah beda. Lebih berkarisma kalau kata adek-adek tingkat kita," ucapku menuai tawa kecil dari laki-laki yang tiba-tiba menimpa tubuhnya dengan ukulelenya.

Aku beranjak dan melihatnya yang memetik ukulele itu asal-asalan tetapi terdengar merdu.

"Kayaknya tadi kamu ke bawah cuma bawa pop mie, deh. Kenapa tiba-tiba ada ukulele?" tanyaku menyelidikinya.

"Ha-ha. Rahasia," balasnya effortless.

Aku menghela napas dan menyandarkan punggungku di tiang gazebo di dekatku. Aku melihat ke arah Evano yang sedang melamun dengan napasnya yang tidak beraturan. Aku segera memalingkan mukaku. 

Suara petikan ukulelenya terdengar semakin lemah. Ia kini tiba-tiba menatapku lalu tersenyum.

"Makasih ya," ucapnya tiba-tiba.

Aku tidak berani menatapnya. Tatapannya begitu dalam. Aku berusaha jaga image dan melihat ke arah udara di atas kepalanya.

"Yaelah! Orang bilang makasih malah diem!" keluh Evano membelakangiku. 

Aku mengusap wajahku yang terasa panas. Bisa gawat kalau Evano tahu aku salting dilihatin kayak gitu. Kita kan cuma temen. Aku harus bisa biasa aja. Huh! 

"Iya! Sama-sama! Dasar pamrih!" ejekku beranjak dari gazebo.

"He! Mau kemana!" teriak Evano bangkit dari rebahannya.

"Badmood!" ucapku asal karena masih merasa wajahku memerah.

"Apaan sih! Maya balik ke gazebo sekarang!" perintahnya tidak aku turuti.

Aku memilih naik dan kembali ke teras gazeboku lalu menyeduh minumanku.

Aku mendengar hentakan anak tangga di sisi kiriku. Aku berpikir mungkin saja teman-temanku kembali. Ternyata, aku salah. Orang yang duduk di sebelahku sekarang adalah Evano.

"He! Kamu gila ya! Ini cottage-nya cewek!" teriakku panik lalu segera menutup semua jendela dengan tirai jendela dari dalam.

Setelah semua tertutup, aku kembali keluar dan melihatnya yang menghabiskan minuman tehku. 

"Enak juga ya minum teh di sini," ucapnya yang bersimpangan dengan topik pembicaraanku.

Aku tidak menanggapi dan duduk tenang sembari mengedarkan pandangan siapa tahu tiba-tiba ada kodok yang melompat ke meja kami.

"Mau sampe kapan pura-pura? Aku udah tahu kok dari awal," ucapnya beranjak dan mengajakku untuk turun dari cottage.

Aku melihatnya tanpa berkutik. Maksudnya bilang begitu apa?

"Kamu nggak mau kedengeran temen-temenmu, kan? Aku tahu tempat yang cocok kalau kamu mau," ucapnya segera menghilang dari cottage-ku.

Aku tetiba menjadi panik. Apa yang dia tahu? Aku berusaha tenang. Semakin aku terlihat khawatir, ia akan mudah menebak arti wajahku. Dengan berat hati, aku mengekor di belakangnya.

Pemandangan cottage perlahan menghilang. Kini, kami melihat kolam renang dengan warna biru yang begitu segar di mataku. Aku melihat ke arah Evano yang sudah menanggalkan kaos oblongnya tepat di sebelahku. Ia lantas melompat dan menceburkan tubuhnya yang atletis menyatu dengan air kolam renang yang begitu bersih.

"Hidup udah ribet. Jangan bikin tambah ribet. Kalau suka, bilang aja," ucapnya sebelum menenggelamkan wajahnya.

"Ha? Apaan? Sok tahu! Siapa yang suka sama kamu?" omelku menggerutu dan sekaligus panik sebenarnya.

Degup jantungku sudah tidak beraturan. Kini, Evano keluar dari kolam renang dan mengusap rambut keritingnya ke belakang hingga seluruh wajahnya terlihat. 

"Kenapa kamu panik, sih?" godanya lalu tiba-tiba mengusap rambutku dan mencubit pipiku.

Aku melotot dan segera beranjak. Belum sempat aku berbicara, dia mendekat dan mengenakan kaos oblongnya lagi, berusaha membuatku nyaman. 

"Aku juga panik lihat wajahmu makannya aku nyebur kolam. Maaf ya. Tiba-tiba, ngelihat aku random banget ngajak kamu kesini," ucapnya yang masih berusaha fokus melihatku.

Aku menghela napas.

"Ya setidaknya kamu nggak ngamuk-ngamuk sembarangan kayak biasanya," ucapku terbata-bata dan terus membuang muka.

"Kamu tahu aku nakal tapi kamu masih peduli. Aku tahu itu nggak gampang apalagi kamu cewek. Tapi, makasih udah sempet nggak percaya sama omongan temen-temenmu," lanjutnya kini serius menatapku.

Aku melihatnya serius. Awalnya, aku merasa itu bukan apa-apa. Aku tidak menyangka hal yang aku anggap sepele bisa menjadi sesuatu yang berkesan untuk orang lain apalagi orang lain itu Evano, laki-laki yang aku suka sejak kecil.

"Aku sebenernya takut sama cewek. Mereka itu bisa jadi baik banget terus tiba-tiba jadi galak banget hanya dalam hitungan detik," ucapnya membuyarkan wajahku yang kaku.

Aku mengerutkan dahiku.

"Nyindir siapa kamu?" omelku mulai judes padanya.

Evano tertawa keras dan tiba-tiba saja mengalungkan sesuatu di leherku. Aku melihat dan mengangkat ukiran berbentuk bulan sabit. Aku melihat ke arah lehernya yang siapa tahu juga menggunakan kalung yang sama. Namun, aku tidak menemukannya. Aku ini terlalu termakan drama Korea. Dasar aku!

"Aku juga pake kok," balasnya yang tiba-tiba menunjuk pergelangan tangannya yang mirip dengan kalungku.

"Apaan sih!" keluhku sudah lelah dengan sikapnya yang selalu tiba-tiba.

"Aku masuk angin nih kayaknya gara-gara njebur kolam," keluhnya tiba-tiba lalu menunjuk jarinya yang berkerut.

"Ih! Udah sana balik ke cottage!" ucapku lalu mendorongnya agar ia cepat kembali ke cottage-nya.

"Kayaknya acara malem aku nggak ikutan. Jangan nyariin ya?" godanya lagi dan berulang kali bersendawa.

Aku berdecak.

"Siapa yang cariin! Nggak ada!" tampisku segera menyangkal semua perkataannya.

Evano tertawa keras lalu melambaikan tangannya ke arahku. Aku tidak menanggapinya dan melihatnya yang perlahan hilang dari jangkauan mataku. Setelah ia pergi, aku tersenyum melihat kalung yang ia berikan. 

"Ternyata kamu masih simpen hadiahku dulu dan kamu kembaliin ke aku. Emang nggak tahu diri! Harusnya aku ngeh kalau kamu lebih suka gelang daripada kalung. Tapi nggak nyangka juga kamu niat banget buat bikin duplikatnya," keluhku lalu berjalan kembali ke cottage dan menemui kodok yang berdiam diri dan menatapku. Di sisi lain, aku mendengar beberapa temanku yang sedang membicarakanku dan Evano di dalam cottage. Aku melihat ke arah kodok itu.

"Aku butuh bantuanmu."

***

Tongkrongan

            


sumber gambar: canva

            "Widih! Tumben banget dateng? Biasanya selalu bilang nggak bisa." 

            Aku melirik ke arah Miki yang melihatku sambil cengengesan. Aku tidak menghiraukannya sambil melihat jam tanganku berulang-ulang. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku berharap acara ini sudah selesai sebelum jam sembilan malam nanti. 

           "Apaan sih, Mik! Harusnya seneng dong Lia akhirnya bisa gabung nongkrong sama kita," bela Siska lalu mengajakku duduk di sebelahnya.

Makanan pembuka datang. Aroma sup sehat menggelitik hidungku. Di tengah malam yang dingin karena baru saja hujan badai membuatku lahap menghabiskannya. Di tengah ketenangan ini, Miki lagi-lagi menyulut emosiku.

"Tumben ibumu ngijinin buat keluar? Kabur ya?" tanyanya yang sudah menghabiskan sup sehat sambil menyeruput kopi hitam di sisinya.

Aku menyipitkan mataku ke arahnya.

"Miki! Aku tadi yang ijin ke ibunya Lia. Udah deh! Nggak usah cari perkara! Makan terus diem!" omel Siska membekap mulut Miki lalu mendorongnya.

Miki tertawa.

"Emang ya. Cewek itu suka banget ikut campur. Orang yang aku tanya siapa yang jawab siapa. Aneh!" ucap Miki mengeluarkan batang rokoknya lalu menghela napasnya di depan wajahku.

Aku hampir saja emosi tetapi aku masih menahan diri. Aku memeriksa jam tanganku. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Tidak ada tanda-tanda Siska ataupun Miki yang berkemas untuk pulang.

Pesan singkat masuk ke ponselku.

"Mau pulang jam berapa, Li? Jangan pulang malam-malam ya."

Pesan dari ibu.

Aroma ayam bakar menari-nari di hidungku. Baru saja datang, Miki langsung melahapnya seperti orang yang sudah lama menahan kelaparan. Aku mengambil sepotong paha dan menyantapnya sembari panik dengan waktu yang bergulir begitu cepat.

"Lia jangan main hape terus ya? Kita jarang lho ngobrol-ngobrol kayak gini. Kamu dari tadi diem aja."

Kali ini, Siska ikut mengomeliku. Miki menyandarkan tubuhnya dan melihat ke arahku. Berusaha mendominasiku.

"Eh, Mik. Ceritain dong liburanmu kemarin," lanjut Siska mencegah ucapan Miki yang hampir keluar dari mulutnya. 

"Aku kemarin bolak-balik Jogja-Rembang naik mobil," ucap Miki yang berhasil teralihkan.

Aku melihat piringnya sudah habis, tidak bersisa.

"Wah! Berapa jam itu, Mik?" Siska terlihat antusias.

Aku melihat keduanya dengan kosong. Aku bahkan tidak bisa membayangkan Jogja ataupun Rembang itu seperti apa. Aku hanya bisa membayangkan kamarku yang membosankan.

"Lima jam dari Malang ke Rembang lanjut lima jam dari Rembang ke Jogja. Rasanya seru banget tapi kaki langsung pegel," lanjutnya dengan antusias.

"Wah! Aku kalau ke Jogja biasanya sih naik kereta jadi nggak ngerasa seseru itu," lanjut Siska.

"Tapi kalau naik kereta, aku yakin punya banyak waktu buat jalan-jalan di sana. Kalau naik mobil, harus istirahat dulu baru besoknya bisa keliling."

Miki dan Siska terus beradu pengalaman mereka soal Jogja. Aku ingin sekali bercerita tetapi aku tidak memiliki cerita apapun. Sambil mendengar keseruan mereka, aku melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Aku bingung harus berbuat apa selain langsung saja memotong pembicaraan mereka.

"Mm…maaf ya udah jam sembilan malam. Aku balik dulu," pamitku membuat Siska tersenyum.

"Aku anterin ya, Li?" tawarnya segera dipotong oleh Miki yang tiba-tiba saja berdiri.

"Aku aja. Kamu jagain tasku.”

Aku melihat Miki terkejut. Aku tidak pernah pulang bersama Miki selama ini. Aku melihat ke arah Siska.

"Aku pulang bareng Siska aja," tolakku menyulut emosi Miki yang tiba-tiba membanting rokok yang dihisapnya ke asbak dengan kasar.

"Nggak usah ribet!" ucapnya sedikit kasar lalu menarik tanganku.

Aku sengaja membiarkan tanganku ditarik menjauh dari rumah makan. Setelah dekat dengan mobilnya, aku menarik tanganku paksa.

"Kalau nggak suka aku dateng, bilang aja Mik! Nggak usah gimick!" teriakku yang sudah tidak bisa menahan emosi.

Miki tertawa kecil.

"Kenapa kok bisa mikir kayak gitu?" tantangnya lalu melipat tangannya.

"Semua perlakuanmu dan pertentanganmu soal aturan keluargaku dari dulu. Kamu selalu nyolot dan marah. Kamu bahkan hanya sekadar temen, Mik. Sori. Tapi, bahkan Siska nggak masalah sama masalahku dan berusaha ngerti," ucapku sudah tidak bisa bersabar.

"Nggak semua orang harus ngertiin kamu. Memang kamu siapa? Tokoh inspiratif? Presiden? Guru besar?" tanya Miki menangkis jawabanku dengan sangat mudah. 

Aku berdiam diri bingung harus membalas apa. Namun, rasanya ingin sekali menamparnya.

"Kenapa? Kamu nggak terima temen deketmu nggak pernah ngerti kondisimu? Itu permasalahan yang harus kamu terima sebagai anak rumahan. Kamu nggak bakalan bisa belajar nerima perlakuan orang yang bersimpangan sama kamu. Karena apa? Yang kamu hadapi ya dirimu sendiri, keluargamu sendiri. Hanya orang-orang itu aja." Miki menatapku dengan jengkel dengan tangannya yang dilipat.

Mulutku terkatup rapat. Rasanya benar-benar menghantam dadaku cukup keras. Perkataannya kasar tetapi benar.

Tanganku terbuka lebar dan hendak menampar pipinya. Miki malah mendekat lalu menyodorkan pipinya dengan sukarela.

"Tampar aja kalau kata-kataku salah. Aku berani karena aku bener," ucapnya dengan tangannya yang masih ia lipat di depan dadanya.

Aku menjatuhkan tanganku dan membuang muka. Aku hampir saja menangis tetapi aku menahannya sekuat tenaga. Seharusnya aku sudah biasa menghadapi sikap Miki. Tetapi mengapa kali ini rasanya sangat menyakitkan?

Miki membuka pintu mobilnya. Ia mempersilakanku duduk di depan. Aku hanya berdiam diri. Kali ini, Miki tidak menghiraukanku dan langsung masuk ke mobilnya dengan kondisi pintu mobil terbuka.

"Kalau sampe lebih dari jam sembilan, nggak usah nyalahin orang lain. Kamu yang bikin jadi lama," tutur Miki tak memperhatikanku dan memperbaiki kaca spion mobil dalamnya. 

Aku menghela napas sembari langsung masuk ke dalam mobil dan membiarkannya yang segera menginjak pedal gas mobilnya dengan kencang.

"Kenapa sih dari dulu kamu selalu nyolot kalau ngobrol sama aku? Aku salah apa sih, Mik?" tanyaku mengisi kekosongan pembicaraan ini. 

Tepat saat lampu berwarna merah, Miki melihat ke arahku.

"Salahmu? Pertama, nggak percaya diri. Kedua, nggak pernah mikirin diri sendiri. Ketiga, selalu berkorban buat orang lain. Keempat, penakut. Kelima, jadi orang sungkanan. Mau aku sebutin sampe dua puluh kesalahanmu yang lain?" balasnya segera menginjak pedal gas karena lampu jalan sudah berwarna hijau.

Jleb! Lagi-lagi aku bungkam. Aku merasa semua perkataan Miki benar dan itu yang aku benci. 

"Aku suka heran kenapa Siska manjain kamu. Padahal dunia yang dia ceritain itu nggak semata-mata kayak dongeng yang selalu happy ending. Lebih ribet, lebih kacau, lebih nggak masuk akal dari itu semua. Jangan salahin kalau aku keras sama kamu."

Aku melirik ke arahnya. Kenapa tiba-tiba Miki berkata seperti itu? Namun, karena rasa-rasanya air mataku hampir meluber, aku tidak bertanya dan berdiam diri. 

Pada akhirnya, aku sudah sampai di rumah tepat pukul sembilan malam. Miki ikut turun dari mobil dan mengekor di belakangku sampai kami bertemu dengan ibu. Tak lama setelah itu, ia meninggalkan rumah ini tetapi tiba-tiba ia berbalik. 

"Aku besok ke Jogja. Aku keterima kerja di sana. Pas aku balik dari sana dan kamu masih gini aja, Li, aku nggak bakal balik lagi ke Malang," ancamnya tiba-tiba.

Kini, aku mengerti mengapa Siska memaksaku untuk datang ke tongkrongan ternyata makan-makan itu adalah momen perpisahanku dengan Miki. Aku juga tahu alasannya mengantarku pulang saat ini.

"Kenapa gitu?" tanyaku yang kepo dengan alasannya tidak kembali ke Malang.

"Percuma. Balik ke Malang sesekali tapi kamunya nggak bisa dateng," ucapnya tiba-tiba terlihat malu-malu.

Aku tersenyum tipis.

"Udah lah. Aku balik lagi nyamperin Siska," pamitnya tergesa-gesa sampai-sampai bawaannya terjatuh di depan teras rumahku.

"Miki!" teriakku berusaha mengejarnya tetapi ia malah pergi menjauh.

Aku membawa tas itu masuk  dan meletakkannya di kamarku. Ibu melihatku dengan tersenyum lalu menutup pintu kamarku. Aku menghela napas. Aku memang tidak bisa membuat semua orang bahagia. Entah itu untuk Ibu ataupun Miki dan Siska. Sampai aku tahu, ternyata Miki, orang paling jahat di hidupku selama ini, memberikanku hadiah.

"Tas yang tadi jatuh buat kamu. Da!"

Pesan singkat dari Miki sebelum ia kembali centang satu seperti biasanya.

Aku tersenyum.

"Makasih Miki," ucapku sambil melihat vlognya saat di Jogja bersama keluarga dan oleh-oleh berupa kaos, kardigan, gantungan kunci, dan bakpia kukus untukku.

***
Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger